Aspek Semantika dalam Karya Naratif*


Oleh: Arinah Fransori


Abstrak: Karya sastra merupakan wujud dari pencerminan kehidupan masyarakat sehari-hari. Baik bersifat fiktif ataupun imajinatif dari pemikiran seseorang, sastra merupakan wujud kreativitas dan apresiatif seseorang. Karya sastra dalam bentuk naratif merupakan cerita/ kisah yang ditelaah untuk memahami maksud dan tujuan dari karya sastra itu. Melalui aspek semantik, dapat dipahami makna dan cerita dari karya sastra sehingga memberikan masukan, inspirasi bagi pembacanya.

 

 

Kata kunci: aspek semantika dan karya naratif

 

* Makalah di sampaikan pada Seminar, yang dilaksanakan pada Seminar  Bahasa dan Sastra, Inderalaya 19 November 2010.

 I.             Pendahuluan

 

Sastra merupakan sebuah sarana yang sering dipergunakan untuk mencetuskan pendapat-pendapat yang hidup dalam masyarakat kita atau lingkungan kebudayaan kita. Melalui karya sastra seseorang mencurahkan perasaan, ide, gagasan dan pikiran serta pengalaman dalam bentuk tulisan. Karya sastra tersebut merupakan wujud dari pencerminan kehidupan masyarakat sehari-hari. Baik bersifat fiktif ataupun imajinatif dari pemikiran seseorang, sastra merupakan wujud kreativitas dan apresiatif seseorang.

Menurut fungsinya sastra memiliki keterlibatan dengan berbagai aspek kehidupan. Berdasarkan hal itu pula menurut Semi (1989:56) mengemukakan bahwa dalam fungsi  sosial, sastra memiliki keterkaitannya dalam aspek kehidupan sosial, ekonomi, politik, kepercayaan dan lainnya. Dalam kajiannya karya sastra menampilkan unsur-unsur dan pencerminan dari aspek-aspek tersebut. Sastra berperan pada memberikan pesan, mempengaruhi pemikiran dan perasaan penikmatnya. Penikmat sastra bersifat apresiatif terhadap karya sastra, baik berupa memberikan gagasan dan pandangannya terhadap karya sastra, Senada dengan hal itu Jabrohim (2001:71) mengemukakan melalui kegiatan bersastra orang dapat mengenal, menyenangi, menikmati dan mungkin menciptakan kembali secara kritis berbagai hal yang dijumpai dalam sastra dengan caranya sendiri, serta memanfaatkan berbagai hal dalam kehidupan nyata. Selain itu melalui karya sastra pula seseorang akan bersikap ekspresif, yaitu mengungkapkan berbagai pengalaman atau berbagai hal dengan mengkomunikasikannya melalui karya sastra yang dibuatnya.

Selain itu pula dilakukan analisis terhadap karya sastra bertujuan untuk memahami sebuah karya sastra. Sependapat dengan hal itu menurut Nurhayati (2008:1) mengemukakan bahwa analisis terhadap teks sastra tersebut selain untuk memahami dan mendalami maksud dari karya sastra tetapi juga untuk mengetahui tujuan dari karya sastra tersebut diciptakan. Berdasarkan hal itu pula berkembang berbagai jenis pendekatan untuk mengkaji teks sastra. Secara umum pendekatan tersebut meliputi pendekatan intrinsik dan pendekatan ekstrinsik. Namun dalam hal ini dipilih teori pendekatan dengan kajian aspek semantika dalam karya sastra teks naratif. Melalui analisis semantik dalam karya naratif  maka akan membantu memberikan pengertian dan pemahaman terhadap karya sastra tersebut.

Tujuan makalah ini adalah memberikan informasi kepada penikmat sastra mengenai aspek semantika dalam karya naratif. Kajian teori ini digunakan untuk menganalisis tokoh, analisis ruang dan waktu yang ada dalam karya sastra, terutama dalam cerpen khususnya, dan novel serta roman Indonesia pada umunmya. Namun, dalam hal ini karya naratif cerpen yang menjadi perhatian, yaitu cerpen karya Rama Dira J yang berjudul Kucing Kiyoko.

 

 

  1. II.          Wacana (Teks) Naratif

  

Wacana (teks) naratif diartikan sebagai seperangkat konsep mengenai cerita dan penceritaan. Menurut Ernawati (2008) teks naratif berkembang atas dasar analogi linguistik, seperti model sintaksis, sebagaimana hubungan antara subjek, predikat, dan objek penderita. Konsep-konsep yang berkaitan dengan narasi dan narator, demikian juga wacana dan teks, berbeda-beda sesuai dengan para penggagasnya. Narasi baik sebagai cerita maupun pencerita didefinisikan sebagai represensi paling sedikit dua peristiwa faktual atau fiksional dalam urutan waktu.

 

III.  Aspek Semantika

Menurut Zaimar (2008:32—36) aspek semantik memiliki beberapa unsur dan  dalam aspek semantik terdapat dua hubungan, yaitu:

a. Hubungan sintagmatik, terdapat dua aspek yang dianalisis yaitu urutan peristiwa dan fungsi utama

b.  Hubungan paradigmatik, terdapat dua aspek yang dianalisis yaitu indeks dan informan.

2.1  Aspek Semantika dalam Karya Naratif

2.2 Analisis Tokoh

A. Tokoh sebagai Individu

Dalam karya sastra tradisional, tokoh mempunyai fungsi mimesis. Ia menggambarkan manusia yang “sebenarnya”. Dalam aspek referensial ini, tokoh mempunyai nama, ciri-ciri fisik dan mental, serta hidup dalam suatu lingkungan tertentu sebagaimana layaknya manusia biasa.

a. Potret (Gambaran) Tokoh

Tokoh selalu mempunyai ciri-ciri tertentu, baik fisik maupun moral. Kombinasi ciri-ciri itu dan cara menampilkannya membentuk potret tokoh. Deskripsi tokoh selalu menjadi bagian dari teks naratif. Hal ini sudah menjadi kebiasaan sejak dulu. Meskipun hanya merupakan tokoh fiktif, berkat potret ini pembaca merasakan bahwa tokoh ini benar-benar ada. Yang jelas, penggambaran tokoh ini digunakan untuk menunjukkan  koherensi tindakan tokoh dalam karya. Penggambaran ini dikemukakan oleh pencerita, tetapi dapat pula di lakukan oleh tokoh lain, tentu saja pandangan tokoh lain harus sesuai dengan perannya dalam cerita.

b. Analisis Nama

Dalam karya naratif, biasanya tokoh mempunyai nama pertama, nama ini tentu saja untuk menampilkan kehadiran tokoh. Bahkan walaupun tidak hadir secara fisik, ia tetap dirasakan kehadirannya apabila nama itu disebut tokoh lain. Nama mempunyai fungsi referensial karena mengacu pada “realita fiktif”.

B. Tokoh sebagai Anggota Masyarakat

Analisis tentang masalah cultural, sosiohistoris ini pertama-tama dapat dilakukan dengan membuat daftar mengenai masalahdalam teks. Yang di anggap sebagai “fakta cultural, sosiohistoris” adalah fenomena yang berkaitan dengan kolektivitas.

2.2  Analisis Ruang

Ruang terutama digunakan untuk memberikan kesan realis pada karya. Dalam hal ini penulis mementingkan deskripsi dengan keterangan-keterangan rinci dan khas, penjelasan tentang keadaan sosiokultural. Semua ini memberikan kesan realis. Sebaliknya, beberapa  cerita yang mengandung unsur ini untuk maksud-maksud lain. Apabila keterangan ruang ini tidak jelas, kesan yang ditimbulkan adalah bahwa peristiwa yang diceritakan bisa terjadi dimana saja.

2.4 Analisis Waktu

Ada tiga macam analisis waktu yaitu

  1. Waktu cerita (waktu yang ada dalam cerita fiksi)
  2. Waktu penceritaan (waktu yang digunakan oleh penutur).
  3. Waktu pembacaan (waktu yang digunakan oleh pembaca).

Seperti juga ruang, waktu berfungsi untuk menjadikan cerita berakar dalam realita. Tanggal, bulan, dan tahun tertentu yang disebut dalam novel atau cerpen menyebabkan pembaca merasa bahwa peristiwa yang diceritakan benar-benar terjadi; lebih-lebih apabila cerita diberi latar belakang peristiwa bersejarah atau peristiwa alami, seperti banjir atau letusan gunung merapi. Ada juga cerita yang menampilkan masa depan (science fiction). Sementara itu, dongeng atau cerita rakyat justru dijauhkan dari realita dengan keterangan waktu yang tidak jelas (misalnya “pada zaman dahulu kala”). Selain itu termasuk juga ke dalam cerita durasi, yaitu berapa lama cerita berlangsung, ada yang mengemukakan cerita yang berlangsung, ada yang mengemukakan cerita berlangsung bertahun-tahun, yaitu masa hidup satu atau dua, bahkan ada yang beberapa generasi atau ada yang berlangsung selama beberapa jam saja.

Sebagaimana yang telah dikemukakan diatas, waktu pembacaan adalah waktu yang digunakan pembaca untuk membaca suatu novel atau cerita. Ada yang menghitung waktu jumlah kata yang digunakan karena cara pembaca seseorang tentu saja tidak sama. Namun, pada masa sekarang ini penelitian dengan hal ini kurang populer lagi.

Contoh Analisis Semantik Naratif (Analisis Paradigmatik) pada Cerpen Kucing Kiyoko karya Rama Dira J.

           

Analisis Tokoh

Kiyoko merupakan seorang gadis keturunan Jepang yang cerdas. Ia adalah dosen muda yang mengajar musik tradisional di Fakultas Seni dan Musik Universitas Aichi Perfectural di Nagoya. Kiyoko memiliki perhatian yang mendalam pada seni musik tradisional, khususnya yang berhubungan dengan alat musik petik Jepang, shamisen, dan ia sangat pandai memainkan alat musik itu.

Analisis Ruang

Di flat Kiyoko mereka (tokoh aku dan Kiyoko) menikmati masakan yang dibuat     oleh Kiyoko dan mereka mendengarkan musik.

Analisis Waktu

Kemunculan kucing belang tiga di pagi hari di flat. Di depan pintu, di flat tokoh aku (tokoh utama) yang membuatnya terkejut karena si kucing belang tiga mencakar-cakar sambil mengeong.

                             

IV. Daftar Pustaka

 

Ernawati, Laili. 2008. “Aspek Semantik dan Verba dalam Cerpen Usapkan Air mata Ibuku… http://phianzsotoy.blogspot.com/2009/07/aspek-semantik-dan-verba-dalam-cerpen.html ” Diakses online 31 Oktober 2010.

Jabrohim., Chairul Anwar dan Suminto A. Sayuti. 2001. Cara Menulis Kreatif. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.

Nurhayati. 2008. Teori dan Aplikasi Stilistik. Palembang. Penerbit Unsri.

Semi, Atar, 1989. Kritik Sastra. Bandung. Angkasa.

Zaimar, Okke K. S. 2008. Semiotik dan Penerapannya dalam Karya Sastra. Jakarta. Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional.

Cerpen Kompas Pilihan 2009. Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian. Jakarta. Penerbit Buku Kompas.  

About FRANSORI

Unik person
This entry was posted in Bahasa dan Sastra. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s