Replika Cermin

By: Arinah Fransori

Ku pandangi wajahku di cermin. Wajahku kecil dan aku tersenyum simpul. Mataku indah dan berbinar-binar penuh kecerian. Kacamataku menyilaukan menghiasi dan memberikan kesan bahwa aku sesungguhnya pendiam. Aku tertawa ceria, memamerkan salah satu gigi seriku yang tak rapi, di sudut kiri. Seolah aku lagi iklan promo pasta gigi.

Aku suka melihat cermin, aku suka melihat senyum manisku itu. Banyak yang bilang senyum manisku seperti gula palu, seperti gula pasir dan bahkan seperti arum manis. Oleh karena itu, aku suka bercermin dengan bercermin aku memperoleh semangat baru, energi baru. Seperti baterai yang baru di isi, penuh semangat yang menggelora. Aku teringat, satu kata pesan dan kesan yang dibuat oleh seorang siswiku. “Senyuman ibu menggoda”, aku tertawa kecil saat mengingat hal itu.

Aku suka berkaca pada cermin, ada yang bilang ekspresi wajahku menenangkan. Memberikan kesan tegas dan berpendirian. Tapi sesungguhnya juga aku ini keras kepala atau kepala batu yang egois. Sekali aku menatap cermin aku berkaca, bahwa sosok ku yang tak sempurna, dengan tubuh kecil dan tampak tak semampai. Namun, aku berbeda aku memandang diriku sempurna. Untukku sempurna adalah wujud syukur sebagai hadiah yang diberikan tuhan kepadaku kini. Bersyukur untuk nafasku, bersyukur untuk aliran darahku dan bersyukur untukku yang bisa mendengar suara dercikan air hujan.

Aku suka bercermin, menghadap kaca mengukur tinggiku. Apakah bertambah walau hanya satu centi saja. Mengukur apakah aku baik dan berlaku baik dan disukai oleh orang di sekitarku. Aku bercermin melihat berapa jumlah dosaku, dan aku bercermin mensyukuri tiap nikmat yang ada di sisiku. Walau sesungguhnya aku tak tahu itu, seperti hembusan angin yang berlalu begitu saja tanpa aku mempedulikannya.

Aku suka bercermin, melihat diriku yang lincah berlari kesana kemari. Gadis yang tak mau duduk diam tanpa henti. Aku yang lebih suka melihat dan mendengar dari pada banyak bicara. Aku tak suka banyak bicara, sesungguhnya karena aku tak pandai bicara. Aku tak pandai menarik perhatian dan mencari perhatian. Di cermin aku melihat diriku yang rajin dan bersemangat, diriku yang pantang menyerah dan tak mau kalah. Diriku yang kadang suka menggomel dan menggerutu atau aku yang sok tahu. Selain itu, aku tahu cermin ingin mengatakan padaku bahwa aku terlalu emosi, mudah marah dan tak bisa bersabar. Huh, maafkan aku cermin, aku mungkin memang demikian.

Aku suka bercermin aku melihat bajuku yang berwarna-warna seolah menggambarkan kecerianku. Di cermin itu aku memakai baju favoritku, baju kaos berwarna putih dengan tambahan jas coklat panjang yang rapi. Aku memakai celana jeans dan jilbab berwarna hijau favoritku. Ku pakai gelang dan kalung dengan hiasan bulu ayam di leherku, dengan sepatu hak tinggi yang 7 cm. Aku cantik tampak seperti wanita dewasa yang modern dengan kaos dan jeans yang kugunakan.

Sesungguhnya aku ingin berbohong pada cermin, aku ingin iya melihat aku sepenuhnya wanita cantik yang mempesona tanpa cela. Aku ingin seperti orang lain yang bertanya pada cermin.

“Sesungguhnya, apakah aku begitu sempurna di matamu cermin?” tanya ku dalam hati sambil terus menatap diriku sendiri.

“Kamu gadis yang manis”, jawab cermin sederhana.

“Bukan begitu, yang ku tanyakan apakah aku cantik?” tuturku mengulang pertanyaan lagi.

“Kamu gadis yang manis”, jawab cermin mengulangi.

“Jadi, aku tidak cantik? Lalu apakah aku harus operasi plastik, seperti wanita-wanita cantik lainnya. Seperti yang ku lihat di TV, wanita-wanita yang menahan rasa sakit yang luar biasa untuk berubah menjadi wanita cantik”, tanyaku lagi.

“Tidak perlu, kau sudah sempurna dengan rasa syukur yang kau miliki sekarang ini”, jawab sang cermin.

Aku terdiam, aku sadar apa yang dikatakan cermin itu benar. Aku di dalam cermin seolah melihat diriku yang ku suka, diriku yang apa adanya. Diriku yang jujur tanpa bisa menipu. Aku yang akan tetap sama, tanpa duplikasi atau pun manipulasi, aku bercermin pada cermin yang polos dan jujur. Aku seperti replica cermin yang ku buat sendiri. Replika kecil diriku yang sesungguhnya, tentang aku dan segala keterbatasan dan kemahiran yang aku miliki. Replika cermin yang menunjukkan hitam tetap hitam dan putih tetap putih. Menunjukkan rupawan atau pas-pasan, kaca yang jujur adalah cermin itu.

About FRANSORI

Unik person
This entry was posted in Bahasa dan Sastra. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s