Puisi, Perut Kosong

 

 

 

 

 

 

by: Arinah Fransori

Demi perut aku buas

Seperti singa liar meraung

Mencakar-cakar sangkar emas

Mengutil dan mengutip hak orang

Demi perut aku jadi hina

Bersujud di depan pagar

Merenda-renda kemaksiatan

Bergelut dengan hawa nafsu dan kebencian

Tang.. kerontang…

Bunyi perut itu kembali memanggil

Seperti kaleng rombeng

Yang berkarat dan merekat

Kau tahu

Aku adalah perut

Perut kosong yang cuma berisi angin

Cuma berisi usus dan sisa-sisa

Namun dalam perut itu gaduh

Berisi ribuan cacing yang berdemontrasi

Menuntut kenaikan harga nasi

Kau tahu

Aku hanya perut kosong yang minta di isi

Bukan pak polisi atau pejabat berdasi

Aku cuma ingin nasi

Bukan sepotong keju atau sekaleng roti

Aku hanya bisa marah,

Jika perih tak terbendung

Ku cabik semua, sisa-sisa demokrasi

Rentetan perang dan genderang

Aku ramai dan rusuh

Aku jadi perampok yang rakus

Aku mencuri dan aku pula korupsi

Aku hanya perut yang kafir

Perut kosong yang berlubang

Aku cuma ingin makan

Tak tahu hitam atau kelam

Tak paham halal atau haram

Aku cuma perut kosong

About FRANSORI

Unik person
This entry was posted in Bahasa dan Sastra. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s