Naskah Drama

Liontion


By Arinah Fransori

Setting di pinggir jalan disebuah kota yang cukup ramai penduduk. Dengan aktivitas lalu lintas yang cukup padat. Di sore hari. Ramainya suasana di tempat itu. Muncul seorang remaja yang membawa karung dengan pakain lusuh dan dekil. Ia berlari sambil berteriak-teriak menuju tengah panggung. Ia merasa kebingungan dan tidak percaya.

Dito  : Emak… emak.. (berlari sambil berteriak-teriak memanggil. Ia mendekati Emaknya yang sedang duduk menjajakan barang dagangannya).

Coba tebak Mak! Apa ini mak!

Emak : Milik siapa ini? (heran).

Dito  : Aku menemukannya di jalan Mak. Saat aku memulung tadi, ku kira itu hanya bungkus rokok yang berkilauan. Tapi ini benar Mak. (Sambil memperhatikan yang di pegangnya di tangan).

Emak  : Bagus sekali ya Dito, kalo di jual laku berapa ya!

Dito      : Tidak tahu Mak.

Emak  : Kita bisa makan enak beberapa hari ini. Sebenarnya ibu muak, makan nasi kering  setiap hari. Kita sudah seperti ayam peternak saja.

Dito  : Walah Mak, untung kita bisa makan setiap hari mak. Walaupun miskin-miskin   begini saya toh masih bisa tertawa.

Emak : Kamu pikir dengan tertawa saja, perut emak kenyang? Bertahun-tahun mak hidup di bumi belum pernah Emak sesenang ini. (tertawa)

Tapi tunggu dulu (berpikir sambil memperhatikan benda yang ada di tanggan Dito)

Dito   : Apa mak??

Emak : Sini emak liat. (mengambil benda yang di tangan Dito).

Ini asli atau imitasi ya? Kalo ini palsu yang benar saja!. (Emak mengangkat benda itu tinggi-tinggi dan memandangnya dengan seksama).

Dito    : Sepertinya ini asli mak!

Emak : Walah! Tahu apa kamu ini Dito. Seumur hidup kamu saja, baru kali ini melihat benda seperti ini secara langsung.

Dito   : Wah, mak ini menghina. Walaupun saya miskin, toh cuma melihat saja sih pernah mak.

Emak : Sudahlah Dito, sok tahu kamu. (lalu menggigit-gigit benda itu dengan kedua giginya). Sepertinya ini asli!

Dito    : Wah yang benar mak?

Emak  : Iya ini asli (memukulkan benda itu ke aspal)

Dito    : Asli. Yang benar saja mak!

Emak  : Ya benar atuh!

Dito   : Tapi, mak mau di apa kan benda ini?

Emak : Pertanyaan bodoh! Malaikat saja tahu, mau kita apa kan benda itu Dito. Sudah ini Emak saja yang menyimpannya (pergi).

Dito   : Emak.. emak… jangan mak (mengejar Emak).

Ditempat berikutnya mereka sudah di pasar. Emak sudah berdiri di depan penjual emas kaki lima. Ia berdiri di dekatnya sedang menawar.

Emak  : Hayolah dinaikan sedikit lagi harganya.

Penjual: Tidak bisalah, ini sudah harga di pasaran.

Emak   : Ayolah saya ingin makan enak.

Penjual:Wah susah, ini surat-menyuratnya saja tidak ada. Bagaimana saya akan  menjualnya dengan harga tinggi (kembali menyodorkan liontin itu).

Emak   : Lihatlah dulu Pak! Ini barang bagus. Asli dan pasti banyak peminatnya.

Penjual: Aduh, kalo harganya naik lagi saya bisa rugi. Tidak bisa, harganya sudah pas.

Dito muncul dari kejauahan. Ia mengejar Emaknya dan mengambil liontin yang terletak

di meja penjual.

Dito    : Emak.. kembalikan ini milikku.

Emak: Apa-apaan kamu ini?

Dito   : Tidak bisa mak, emak tidak bisa menjualnya. Ini barang hasil temuan, tidak jelas pemiliknya siapa.

Emak : Sekarang benda itu milik emak, tahu!

Dito    : Bukan mak, ini milik pemiliknya.

Emak  : Iya, emak sekarang yang jadi pemiliknya.

Dito    : Tidak bisa mak, titik.

Penjual : haduh, gimana ini? Jadi atau tidak menjualnya.

Emak   : Jadi.

Dito     : Tidak.

Emak   : Apa-apaan kamu ini? Sok tahu. Dengan uang hasil penjualan benda ini kita bisa menutupi kebutuhan kita selama sebulan.

Dito   : Tidak emak, kata Pak ustad menjual barang yang bukan miliki kita itu haram mak.

Emak  : Ah! Jangan ceramahi emak. Kamu itu masih seumur jagung nak!

Dito    : Katanya itu dosa besar emak. Aku tidak ingn emak masuk neraka mak!

Emak : Dito, kamu ini. Bicara soal dosa. Kamu sekolah saja tidak, tahu apa kamu tentang dosa. Orang yang makan bangku sekolah hingga menjadi pejabat saja tak paham akan dosa.

Dito   : Tapi mak!

Emak : Sudah, tidak usah kamu pikirkan. Tidak ada yang merasa dirugikan kali ini. Pemiliknya saja, mungkin sudah mengihklaskan benda ini. Toh dia pikir, ia tidak sengaja menjatuhkannya. Sudahlah Dito, turut saja kata emak.

Penjual : Iya nak benar sekali kata emakmu. Toh koruptor saja yang merugikan bangsa Indonesia dan seluruh rakyat masih bebas berkeliaran. Mereka masih bisa bersenang-senang. Petangtang petengteng dengan uang yang bukan miliknya.

Dito   :  Dito tidak bisa mak. Dito tidak mau dibesarkan dengan uang halal.

Emak : Kayak orang suci saja kamu ini Dito. Makanya jangan suka bergaul dengan orang-orang aneh itu.

Dito    : Bukan begitu mak, mereka mengajarkan Dito hal yang benar.

Emak  : Sudah, jangan sok mengajari Emak. Tahu apa kamu soal ini.

Dito   : Tapi mak!

Emak : Walah, tidak usah tapi-tapian. Kembalikan saja liontin itu pada emak.

Penjual: Haduh, mengapa kalian ribut. Jadi atau tidak menjualnya.

Emak  : Jadi.

Dito    : Saya tetap tidak akan menjualnya.

Penjual: Sudahlah, dari pada kalian ribut. Sebaiknya kalian pulang dulu. Besok datang lagi saja. Jika memang ingin menjual liontin ini.

Emak : Kami akan menjualnya kok!

Penjual: Kalo mau di jual yah silakan.

Dito    : Aku tidak mau, akan ku kembalikan dan ku serahkan pada pemiliknya.

Emak  : Memangnya kamu tahu pemiliknya?

Dito    : Tidak, tapi yang jelas saya tidak akan menjualnya (pergi).

About FRANSORI

Unik person
This entry was posted in Bahasa dan Sastra. Bookmark the permalink.

3 Responses to Naskah Drama

  1. Yudhi says:

    Waw sangat luar biasa tulisannya..
    namun sy juga butuh ni mbak
    Analisis kritik ilmiah Drama…

  2. FRANSORI says:

    makasih, udah baca tulisannya
    salam knal
    makasih jg atas kunjungannya
    emm,. klo cerpen dan lainnya banyak si
    klo drama ntr di liat dulu ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s