Inyong Tompel

By: Arinah Fransori

Dia cantik, putih bersih dan berparas anggun. Saat berjalan ia mengibaskan bulu ekornya, menggangkat kepala dengan angkuhnya. Seolah ada pejantan yang mengikutinya. Matanya bulat, kuning dan besar, melotot memperhatikan keheranan. Siang hari pupil matannya mengecil, sipit seperti mata cina. Nyaris tak terlihat bola mata, hanya ada kuning kemilauan. Namun di malam hari, pupil matanya bulat. Bersinar, seperti sorot lampu senter. Bisa dibayangkan terangnya mata Inyong di tempat gelap. Pada malam hari biasanya pupil mata Inyong membesar, mungkin itu agar cahaya dari luar lebih banyak di serap. Membantu melihat dan menangkap mangsa di tempat minim cahaya.

Berbicara soal mangsa, sesungguhnya ia tidak bisa berburu. Ia tidak tertarik untuk memangsa tikus. Ia hanya menangkap dan memainkan tangkapannya itu. Tikus kecil, kecoa, cicak atau sejenisnya di anggapnya hanya seperti kelereng. Di kejar, di buru digiring seperti sedang menggiring bola. Tapi ia tidak memakannya. Sesungguhnya makanan favoritnya adalah pempek, kue dan sejenisnya. Ia suka makan kemplang seperti ayahnya dan suka sekali makan roti atau kue. Pada saat hari raya makanan favoritnya adalah kue maksuba. Ha…ha…! Dasar kucing! Menurutku pantas jika ia di sebut kucing Palembang, karena doyan sekali makan pempek.

Inyong tompel memang sangat cantik, bulunya halus dan lembut, panjang dan indah memutih. Bulunya berdiri tegak, kumisnya panjang menipis. Di kepala ada motif hitam, di antara kening dan telinganya yang panjang. Motif hitam itu seperti mahkota baginya, memperindah penampilannya. Ekornya menarik, tidak begitu panjang dan berwarna hitam. Namun, Inyong mungkin tak suka dengan satu tompel yang ada di wajahnya. Bercak hitam yang menjadi hiasan diwajahnya. Tompel itu tepat di sisi kanan mulutnya, diantara hidung dan mulut. Tepat diruas-ruas kumis kanan Inyong. Mungkin itu bukan tompel, namun cuma motif biasa dari warna bulunya. Tapi karena bercak-bercak hitam itu memang melingkar dan nyaris seperti tompel bila diperhatikan.

Inyong kucing yang sempurna, selain cantik ia penurut dan setia. Ia menjadi primadona di antara kucing-kucing kampung. Kucing yang setia, setiap detik ia berada di sini, di dekatku. Ia suka bermain dengan tangkai bunga plastik, jika aku sibuk dan tak punya waktu untuknya. Dia menghampiri dengan menggigit tangkai bunga plastik itu, dan menggajakku bermain. Menggajakku berlari mengitari rumah, berkejar-kejaran seperti anak kecil. Saat aku membersihkan rumah, ia bersemangat memburu dan mengincar bulu kemoceng yang ku punya. Jika tak dapat menggigit bulu kemoceng, ia tak mau berhenti, mengejar dan berputar-putar. Lain lagi jika aku sibuk dengan komputer, ia berdiri depan monitor memburu cursor atau hanya menginjak-injak keyboard di depanku. Namun, jika aku marah, ia hanya duduk diam di bawah, menunggu aku bergerak dan tersenyum padanya.

Setiap aku pulang, aku mengetuk pintu dan langsung ku panggil namanya. Ia langsung bergegas berlari, seolah mencium bau ikan asin. Ia menghampiriku, menyuarakan dan mengeong. Menyambutku seolah mengatakan selamat datang kepadaku. Setiap aku bergerak inci demi inci dari rumah ia selalu ada. Aku duduk di kamar, membaca buku, ia berbaring di sebelahku. Aku menonton TV, atau aku di kamar mandi ia selalu membuntutiku. Aku pergi ke warung atau ke rumah tetangga, ia mengekor. Membuntutiku dari belakang dan seolah sebagai pengawal pribadi.

Sedikit unik, ia tidak begitu takut dengan air. Pernah saat suatu malam turun hujan, tapi belum reda, masih banyak sisa rintik hujan. Aku pergi ke warung, ia tetap mengikutiku melewati sisa rintik hujan itu. Lalu lain lagi, setiap minggu ia dengan tenang mandi dan berjemur. Ku keringkan pula bulunya dengan hair-dryer dan sepertinya ia menikmatinya. Ia seolah sedang berada di salon. Ia bersikap manis dan ramah, tanpa ada cakar-cakar yang keluar atau ia mengeong keras-keras. Berbeda dengan kucing-kucing kampung lain yang takut di mandikan.

Setiap pagi Inyong tompel mengantarku pergi, walau hanya sampai halaman depan rumah. Ia menengadah memunculkan mata kuningnya yang berkelip, menampilkan wajah polos dan lugu. Seolah memberikan senyum manisnya padaku setiap pagi. Dengan lincahnya ia menukik dan berlari mengejar dan mengejar langkahku. Seirama dengan jejak sepatu yang membekas di tanah pasir.  Namun, suatu pagi ia pernah ikut mengantarku ke sekolah. Pagi itu ayah yang mengantarku sekolah. Secara sembunyi-sembunyi tanteku memasukankannya di dalam mobil. Aku saat itu yang pura-pura tak melihat, aku hanya tersenyum. Selama dalam perjalanan Inyong takut, maklum itu pengalaman pertamanya naik mobil.

Pada awalnya ia santai. Inyong berputar-putar di dalam mobil. Ia melintasi kursi tengah dan menuju kursi belakang. Melewati celah-selah-celah lubang dibawah kursi. Melompati dan hinggap kesana kemari. Ia berkelana seolah-olah mencari sesuatu. Mencium setiap sudut kursi, memperhatikan setiap inci. Mungkin dalam hati ia berpikir ”ini dimana yah!”. Seekor kucing tentunya merasa asing dengan tempat yang tak pernah dilaluinya.

Reaksinya sedikit berbeda. Saat mobil mulai melaju lebih kencang. Ia diam dan  bersembunyi di bawah jok mobil. Mungkin ia baru menyadari, setelah tadi ia memperhatikan ke jendela mobil, ia melihat orang-orang yang bergerak. Langit yang berjalan, rumah-rumah yang bergerak dengan cepat. Kondisi ini memang membuatnya takut. Seolah ia mabuk laut, mungkin ia ingin muntah. Mengeluarkan isi perut yang ia makan. Ia mungkin merasa seolah-olah sedang berada dalam tabung yang diputar-putar. Matanya tak fokus, raut ketakutan yang mendalam. Badannya bergetar, seperti orang ayan. Bulunya rontok dan menempel diruas-ruas jok. Lalu, aku meraihnya dan mencoba menenangkannya. Saat itu ia seolah berdamai dengan ketakutannya. Ia duduk dan menundukkan kepalanya di sebelahku. Mungkin hal itu membuatnya merasa lebih tenang.

Berikutnya kisah lainnya, suatu saat ketika kucing jatuh cinta. Inyong sibuk atau pura-pura lupa. Ia sudah punya pacar. Kucing tetangga jauhku di seberang sana. Seekor kucing jantan belang tiga hitam, putih dan abu-abu. Inyong lupa diri, ia di mabuk asmara. Seperti pemuda-pemuda, layaknya sang pujangga. Ia tak lagi bersamaku setiap detik. Ia sudah punya pacar. Dia sudah punya idaman hati lainnya.

Ia berlari dan berkejar-kejaran dengan si Jantan. Saling bersahutan memanggil dengan suara mengeong yang begitu menggangu di malam hari. Tapi, aku heran kucing ini masih muda. Belum satu tahun tapi sudah banyak kucing jantan yang mengincar. Hmm… mungkinlah, karena resiko kucing cantik. Kemana pun Inyong pergi pasti kucing jantan selalu mengikuti dan mengiringi di belakang. Membuntuti ekor Inyong seperti pengawal. Kucing jantan mengikuti dan merayu si betinanya, Walapun pada mulanya si Inyong marah dan enggan di ikuti, namun pada intinya sama dia tak punya pilihan.

Satu jalan yang ku lakukan. Inyong di kurung, sedih memang melihat ia meronta-ronta. Mendorong dan mencakar sela-sela kandang untuk keluar. Ia risau dan ingin keluar. Aku tak biasa mengurungnya, seolah sedih melihat ia mengoeng-ngeong dan memelas dengan suara yang lemut dan penuh harap. Tapi, Inyong tak punya pilihan ia tetap terkurung dalam sangkar.

Lama-lama akhirnya aku jenuh juga. Inyong dikurung dan harus selalu di perhatikan. Harus tetapmenjaga kandang dan rutin memberik makan. Inyong bisa melenggang bebas dari kandang. Ia keluar untuk bersenang-senang. Lama ku pikir tak baik pula jika tetap mengurungnya. Namun, selain itu sebenarnya ada satu hal yang aku ragukan. Dulu kata orang-orang tua, seekor kucing tidak boleh di foto. Entah ini mitos atau apa, sama seperti katanya jika orang berfoto bertiga. Banyak mitos dan kabar burung terdengar. Dahulu ada yang bilang jika kucing di foto umurnya akan pendek. Tapi entah, aku percaya atau tidak. Yang jelas aku punya beberapa koleksi foto Inyong saat masih kecil dan beberapa fotonya yang aku simpan di memori handphone. Tapi, jujur aku penasaran, ini benar atau hanya gurauan.

Selanjutnya, kembali ke kisah Inyong. Pagi berikutnya lain lagi, hari ini aku naik becak. Seperti biasa ia mengikutiku, tapi kali ini berbeda. Ia tidak berhenti, tapi malah mengejar becak yang ku naiki. Lalu sehari sesudahnya, kali ini aku pergi pagi. Dan serasa ada yang benar-benar berbeda, pagi ini depan rumah ada yang sudah menungguku. Seperti biasa Inyong mengikuti, tapi aku menyuruhnya kembali, aku meletakkannya di pinggir jalan dan sesaat kakakku membawanya pulang ke rumah.

Pagi ini aku senang, tapi saat ku terima telp dari rumah beberapa menit kemudian. Aku diam tak mampu menangis. Kakakku menelpon mengatakan “Dek, Inyongnya mati!” Aku diam tak mengatakan satu katapun, kaki ku lemas seperti sakitnya hatiku yang kehilangan. Inyong tompel mati tertabrak motor dan hari itu menjadi hari terakhir ia mengantarku pergi.

Kisah ini di dedikasikan untuk Inyong Kucing Kesayangan No. 1 Dunia.  Setelah ini takkan ada nama lain selain nama Inyong. Yang ada hanya, Mak Inyong dan adik-adik Inyong.

About FRANSORI

Unik person
This entry was posted in Bahasa dan Sastra. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s