Guru, Wartawan atau Sastrawan

By:  Arinah Fransori

Aku punya banyak cita-cita. Seperti kisah Toto-chan seorang Anak Kecil di Beranda Jendela. Kisah dari sebuah novel terjemahan, Toto-chan anak kecil yang bersemangat, yang memiliki cita-cita yang berubah-ubah. Pertama ia ingin jadi penjual karcis di kereta, lalu ia ingin menjadi mata-mata dan lain lagi ia ingin menjadi serorang pemusik dalam suatu orkestra.

Sama halnya aku, sejak kecil aku ingin jadi dokter, seperti anak-anak kecil pada umumnya. Seperti kisah Cila yang ingin jadi dokter karena ingin menyembuhkan teman-temannya yang sakit. Kemudian lain lagi denganku, setelah aku duduk di Sekolah Dasar cita-citaku berubah lagi, aku ingin menjadi astronot.

Haha…! Entah itu apa, lucu sekali, jika ku pikir sekarang. Mana ada astronot Indonesia seperti diriku. Mungkin dulu aku terpengaruh dengan film yang aku tonton. Dulu aku suka sekali nonton film Power Ranger”s. Mungkin juga sampai saat ini, jika di hari minggu ada waktu luang aku menonton film itu. Jadi astronot itu asyik, bisa melihat luar angkasa, melihat bintang-bintang dan bulan, serta planet atau benda langit lainnya. Sering aku bayangkan aku seperti Power Ranger’s yang bisa terbang dan bertempur dengan megazotnya. Begitu fantastik dan menyenangkan, bisa berubah dan menyelamatkan bumi.

Tapi kini semua berubah. Aku sekarang semester 7, kuliah di Fakulas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Tahu pastinya aku akan menjadi seorang guru. Dengan gelar yang akan ku sandang setelah tamat kuliah. Tapi, jujur terkadang aku berpikir sampai saat ini cita-citaku tetap sama, masih bisa berubah sama seperti waktu aku masih kecil.

Satu perkataan yang menguatkan, pernahkah anda bermimpi? Aku bermimpi tentang satu hal. Nanti dengan ilmu yang ku punya aku ingin bisa melihat dunia atau bahkan menciptakan dunia baru bagi orang lain. Aku ingin menjadi orang yang bermanfaat dan berguna bagi orang lain. Walau hanya dalam lingkup kecil disekitarku, dengan ilmuku yang ada bisa mempermudah dan membantu orang lain. Keingingan yang cukup rumit jika dijelaskan secara rinci.

Tapi yang pasti, aku ingin berkeliling melihat banyak tempat, kalau dunia asing atau dunia luar tak sanggup di jamah. Mungkin daerah sekitarku saja sudah cukup sebagai permulaan. Tahap satu, cita-cita yang ku pilih untuk melihat dunia adalah dengan menjadi wartawan. Dengan kartu persku, yang merupakan tiket istimewa untuk menembus beberapa pintu yang berpenjaga. Aku bisa lolos kemana pun dan dimana pun. Layakah di katakan seperti pintu kemana saja. Dengan kartu per situ seolah kartu chip ku untuk menembus pintu kemana saja. Aku berpikir, setelah lulus kuliah aku bisa melamar pekerjaan media lokal harian kota. Menjelajah kota metropolis menemukan tempat dan bertemu banyak orang yang baru ku kenal.

Setelah berkeliling kota, aku ingin tenang dan damai menjadi guru. Menemukan siswa-siswa yang ramah dan ceria serta yang nakal dan brutal bukan kepalang. Hal itu kadang melelahkan, bersama dan bercengkrama dengan siswa itu menyenangkan. Tak tergantikan, saat mereka memanggil namaku dan mencium tangan. Seolah sebuah penghargaan yang tak tergantikan, melihat ekspresi mereka yang malu-malu, ekspresi bingung dan ingin tahu. Mengajar juga sama seperti masuk ke dalam toples permen beraneka rasa. Saat mereka membutuhkan bimbingan dan bantuan kita, saat mereka ingin berbagi dan bercerita bersama gurunya. Satu hal yang menyenangkan dan takkan pernah tertandingi oleh apapun itu.

Jika aku masih boleh bermimpi. Mimpi berikutnya aku bercita-cita menjadi dosen, setingkat lebih tinggi. Mendapat julukan dan gelar yang lebih tinggi dan tentunya akan lebih melelahkan. Berharap duduk di ruang seminar sebagai pembicara dengan status dosen yang lebih maha. Bisa memarahi mahasiswa yang datang terlambat atau yang menggunakan kaos dan sandal. Dosen itu cukup layak, dengan ilmu yang dimiliki akan mampu menciptakan ruang baru bagi orang lain. Dunia baru dengan ilmu yang dimilikinya. Dengan status dosen akan membantu kita menjadi penulis, penulis kolom untuk warta harian atau majalah bulanan. Menjadi penulis kolom, menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang. Sama halnya Bapak Tede Asmadi, atau yang juga di kelan dengan Bapak TDA. Sosok yang menginspirasiku, seorang ahli bahasa mantan wartawan Kompas dan sekarang sering melakukan pelatihan atau diskusi ke berbagai daerah. Aku suka sekali dengan karakternya yang ramah dan perhatian. Sebagai seorang ahli beliau ramah dan mau berbagi kepada seorang pemula. Ia ramah, bercerita melalui account facebooknya. Ia tidak terlalu membatasi status dan usia, yang jelas beliau suka sekali dengan berbagi dan bercerita. Oleh karena itu, pastinya dari kisahnya akan meninggalkan jejak kesan baik dan mendalam dengan ilmu yang beliau berikan kepada siapa saja.

Setelah jadi dosen, langkah ke depan jika masih bisa bermimpi. Aku ingin bisa menjadi sastrawan. Jika dulu seorang wartawan maka kini menjadi sastrawan. Kebiasaan menulis mampu membimbing kita menjadi seorang penulis yang baik dengan berbagai karya sastra yang diciptakan. Ini mungkin hal yang paling mendasar, seorang sastrawan mampu menciptakan dunia baru dalam kehidupan seseorang. Kita tahu bahwa sastra itu membawa pesan, karya sastra itu sarat makna dan begitu bermakna di setiap pikiran insan. Sastra seperti obat bius yang membuat kita tidak sadar. Membawa kita pada dunia baru, masuk ke dalam kisah yang diciptakan oleh seorang sastrawan. Tapi dari semua cita-cita itu hanya sebuah unsur kehidupan. Kita tahu pada dunia kita sendiri. Tentang bagaimana cinta, kasih sayang, dan ketenangan yang kita peroleh dari sebuah rumah idaman yang berpenghuni. Yang menjadi cita-cita dan tujuan semua orang.

About FRANSORI

Unik person
This entry was posted in Bahasa dan Sastra. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s