Dongeng, Kura-kura dalam Tempurung

by:  Arinah Fransori

Kura-kura sedang bersedih, ia merasa rendah diri. Ia sangat dan tidak banyak berbicara dengan teman-temannya. Ia hanya mengurung diri dalam tempurung dan tidak banyak melakukan apapun. Kerjanya hanya berada di rumah, menghabiskan waktu dengan tidur seharian atau mencari makan di pinggir sungai.

Kura-kura menjadi pemalu dan enggan bermain dengan teman-teman di hutan. Hal itu karena kura-kura merasa rendah diri dengan jerapah. Ia tidak mau bermain dan dikucilkan oleh jerapah dan teman-temannya itu. Jerapah memiliki sifat sombong dan selalu memandang rendah kepada si kura-kura yang kecil dan tidak bisa apa-apa itu. Dahulu saat ada perayaan musim semi, kura-kura pernah di ejek oleh jerapah. Jerapah mengatakan bahwa kura-kura itu sungguh lamban dan tidak berguna.

“Memasang lampu hiasan untuk di acara perayaan saja tidak bisa”, ungkap jerapah waktu itu. Kura-kura sedih, karena ia ditertawakan oleh semua teman-temannya. Setelah kejadian itu, hampir setiap hari jerapah mengolok-olok dirinya. Saat berpapasan di jalan, saat di kebun atau saat ia berenang di pinggir sungai.

Selain itu pula, pada setiap acara musyawarah antara masyarakat di hutan, kura-kura tidak pernah hadir. Ia malu dan rendah diri, ia takut teman-temannya mencibirnya dengan sebutan lamban dan bodoh. Oleh karena itu, jarang sekali kura-kura hadir pada acara-acara yang dilakukan oleh masyarakat di hutan.

Dengan kondisi seperti itu, lama kelamaan raja hutan, singa mengjadi bertanya-tanya. Kemanakah gerangan si kura-kura, mengapa ia tidak hadir dalam musyawarah di hutan. Padahal dalam acara musyawarah itu bertujuan untuk membahas masalah yang ada di hutan.

“Wahai rakyatku, ada yang tahu kenapa si kura-kura kecil tidak hadir dalam musyawarah kita?” tanya singa pada suatu acara musyawarah.

“Kura-kura itu malas, dia ada di rumahnya”, jawab jerapah.

“Benarkah demikian?’ tanya raja hutan lagi.

Masyarakat hutan diam, mereka mencoba menjawab dan mengatakan yang sebenarnya. Tapi, hal itu gagal karena setiap akan berbicara raja si jerapah menyela.

*          *          *

Pada musyawarah beberapa minggu berikutnya kura-kura juga tidak hadir. Oleh karena itu membuat singa selalu bertanya-tanya. Padahal sesungguhnya singa ada keperluan dengan si kura-kura. Oleh karena itu, ia menyuruh masyarakatnya untuk mengunjungi rumah si kura-kura.

Mendapat kunjungan itu, kura-kura menjadi takut. Ia bingung, bagaimana jika ia tidak hadir pada musyawarah selanjutnya. Pasti singa akan marah, singa akan mengira bahwa ia tidak patuh kepadanya.

Akhirnya dengan rasa takut dan terpaksa kura-kura pun hadir dalam musyawarah. Ia datang sendiri dan duduk di bangku paling belakang, sehingga hewan-hewan lain tak bisa melihatnya. Terutama jerapah, ia bersembunyi dari jerapah yang sombong itu.

Kali ini singa bertanya lagi, kemana si kura-kura? Mendengar namanya di panggil si kura-kura takut. Dengan ragu-ragu ia menuju ke depan dan menemui singa.

“Kemana saja kau kura-kura. Mengapa tidak hadir dalam musyawarah hutan?”

“Saya”.. jawab kura-kura takut-takut.

“Kamu tidak usah takut, saya tidak marah padamu”,jawab singa bijaksana.

“Saya, tidak berani keluar rumah, jadi saya hanya bersembunyi dalam tempurung”, jawab kura-kura.

“Mengapa begitu?” tanya singa penasaran.

Mendengar hal itu, jerapah menjadi khawatir. Ia takut kura-kura mengadu pada singa, bahwa ia sering mengejeknya.

“Dia itu pemalas, jadi tidak mau keluar rumah”, sela jerapah.

Kura-kura gemetar ia hanya menunduk diam. Seolah ia hendak bersembunyi lagi dalam tempurungnya. Ia malu karena saat ini semua mata masyarakat di hutan tertuju kepadanya.

“Kamu jangan takut” ujar singa sambil memperhatikan wajah kura-kura kecil yang terlihat cemas.

“Sesungguhnya, saya ingin meminta bantuan padamu untuk mencari rumput hijau di sungai. Rumput itu biasanya ada di dasar sungai, rumput itu digunakan untuk menyembuhkan luka anakku”, ucap singa ramah.

Mendengar hal itu, kura-kura menjadi tenang.

Ia tersenyum kecil.

“Selain itu, saya juga tahu. Permasalahannya yang terjadi antara dirimu dengan jerapah. Saya mendengar desas-desusnya sendiri dari masyarakat”, tambah singa lagi.

Si jerapah terkejut, ia tertunduk malu dan terdiam.

Singa yang bijaksana memberi hukuman pada jerapah yang sombong. Ia di perintahkan untuk membersihkan dan merawat kebun masyarakat setiap hari. Sedangkan si kura-kura merasa senang, setelah membantu singa mencari rumput ia bermain dan berkumpul seperti sebelumnya dengan hewan-hewan lain yang ada di hutan.

Selesai

About FRANSORI

Unik person
This entry was posted in Bahasa dan Sastra. Bookmark the permalink.

4 Responses to Dongeng, Kura-kura dalam Tempurung

  1. anymous says:

    makasih ya:D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s