Bintang Pengabul Keinginan

By:  Arinah Fransori

Manusia memliki banyak keinginan. Memiliki hal-hal yang disenangi dan tidak disukai. Orang-orang selalu memiliki hal yang disenangi, hal-hal yang harus dihindari dan hal-hal yang sangat ingin dilakukan. Jika aku berpikir dan berandai-andai aku ingin memiliki sebuah bintang pengabul keinginan. Dengan keajaibannya, aku dapat menciptakan suasana yang aku senangi dan semua akan terasa lebih mudah dan menyenangkan. Dengan benda itu, aku akan berpetualang.

Pada dasarnya semua orang suka bermain, seperti anak-anak yang selalu ceria jika bermain. Sama halnya aku. Aku juga suka bermain, berpetualang dan melakukan apapaun yang menarik. Aku ingin banyak belajar, aku ingin bisa apapun dan bisa bertemu banyak orang. Baik orang kalangan atas, pejabat, artis atau orang-orang terkemuka. Bisa bertemu orang biasa saja, rakyat kecil, pemulung atau orang yang banyak bicara.

Aku memiliki sejuta keingingan, aku ingin bisa berenang agar bisa lompat indah, aku juga ingin bisa mengendarai sepeda motor untuk mengelilingi kota, dan aku juga ingin mengendarai mobil sendiri untuk mengunjungi tempat yang ku inginkan.

Selain itu, aku suka bermain, mengunjungi tempat wisata, bermain kora-kora, menikmati wahana poci-poci atau naik kuda keliling. Mencoba merasakan betapa menyeramkannya wahana tornado atau betapa menakutkannya naik kereta gantung. Aku suka melihat keramaian, mengunjungi pasar atau ke kebun binatang. Menemukan hal baru yang tak pernah ku lihat. Aku ingin tahu bagaimana ramainya pasar, berapa harga cabai satu kilo atau berapa harga 1 sikat pisang raja. Aku cuma ingin tahu, bagaimana perbedaan budaya dan kebiasaan beberapa tempat di daerah tertentu. Di kebun binantang aku juga ingin memberi makan beruang madu, aku ingin melemparkan kacang kulit kepadanya. Aku ingin mengukur berapa panjangnya leher jerapah dan berapa usia penyu laut yang paling tua.

Aku juga ingin bisa menyelam dalam air, bertemu dengan ikan badut yang ku suka. Ikan lucu dan berwarna-warni itu, berenang dengan snorkeling menyapa kuda laut dan melihat warna ubur-ubur. Menyenangkan pula jika bisa bertemu dengan lumba-lumba, melihat betapa baik hati dan pintarnya mereka. Walaupun ini sulit karena aku tahu nyatanya aku tak bisa berenang.

Lalu aku  ingin menaiki perahu  dan menyusuri sungai. Mengetahui suara dercik air sungai yang lembut. Merasakan ketenangan dan kedamaian suara angin yang berhembus. Berikutnya aku ingin menaiki sepeda dan berkeliling desa. Kemudian, memetik buah dikebun dan bermain air di pinggir sungai, mengumpulkan batu-batu kerikil kecil yang menawan.

Tapi selain sebanyak tempat itu, aku tak suka pergi ke museum. Sekelumit kisah yang tak banyak bisa aku ceritakan. Satu hal lagi aku juga tidak suka pergi ke daerah terpencil yang sepi. Tempat yang harus ditempuh berkilo-kilo meter dan tempat yang sulit di jangkau.

Aku juga tidak suka gelap, pengap dalam ruangan sendiri. Aku benci dinginnya malam, angin yang berhembus mengibaskan, menerpa wajahku. Serasa dingin itu masuk ke sela-sela tulangku dan hendak membekukan saraf-sarafku. Di malam hari aku suka duduk tenang di rumah, menonton tv atau membaca buku. Menyibukan diri dengan aktivitas rutin, berbagi dan bercerita ramah dengan keluarga.

Aku suka berjalan memutari kota, menghapal ruas-ruas dan sudut jalan di siang hari memperhatikan keramain. Aku suka seperti itu, mengunjungi banyak tempat mengukir cerita. Jadi, pada intinya aku suka berkeliling, tapi sungguh aku tak begitu suka hal ini. Beberapa hal yang tidak aku senangi, ingin ku hindari dengan cara apapun. Pertama aku tidak suka tersesat, aku tidak suka menunggu dan tidak suka matematika. Aku benci jika harus berputar-putar di satu lokasi tanpa arah dan tujuan yang jelas. Menunggu berdiri selama berjam-jam tanpa bisa melakukan apapun. Tapi terkadang aku juga membuat orang menunggu. Hmm… memang tidak sesuai keadaan. Lalu aku tak pandai berhitung, jadi aku tak suka matematika. Kadang rasa tidak suka dan malas itu malah menjadi momok bagiku yang menghantui diriku.

Menurutku matematika seperti monster besar yang akan menginjakku dan membuat kepalaku ini berat. Membuat otakku sulit bekerja dan berpikir, matematika menjadi sumber rasa takutku yang selalu aku hindari tanpa pernah mencoba menyentuhnya sedikitpun. Rasa takut yang berlebihan barangkali, tapi yang jelas aku akan selalu bersentuhan dengan hal yang satu ini.

Aku diriku dan segala yang aku sukai dan tidak sukai, menjadi cerita dan kisah bermakna. Memberikan jejak dan menjadikan sosok karakter diriku saat ini, aku yang di kenal oleh teman-teman dan orang di sekitarku. Berbagi, bercerita dan mengukir kisah di dalamnya menjadi lembar-lembar kehidupan.

About FRANSORI

Unik person
This entry was posted in Bahasa dan Sastra. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s