Revolusi Pendidikan

inkcinct.com.au

 

Pendidikan merupakan alat sarana untuk membangun peradaban. Sebuah jendela baru untuk membuka gerbang kesejahteraan bagi suatu bangsa dan negera. Pendidikan adalah kunci sukses, membentuk generasi penerus yang cerdas dan kreatif. Melalui sistem pendidikan pula, kita bisa membina kaum intelek yang cermat dan bersikap kritis sehingga mampu menbangun sebuah peradaban baru yang lebih baik. Nyatanya, kini metode pendidikan yang dikembangkan tidak berjalan searah. Pendidikan kita sangat tidak memperhatikan aspek afektif, sehingga kita hanya tercetak sebagai generasi-generasi yang pintar tapi tidak memiliki karakter-karakter yang dibutuhkan oleh bangsa ini. Kecerdasan-kecerdasan teori yang berkutat dan berputar pada jalur yang sama. Tanpa adanya kreasi dan tindak lanjut yang pasti. Sudah 45 tahun Indonesia merdeka, dan setiap tahunnya keluar ribuan hingga jutaan kaum intelektual. Tapi hasilnya statis, tak kuasa mengubah nasib bangsa ini.  Lalu apakah ada yang salah dengan sistem pendidikan yang kita kembangkan hingga saat ini? Butuh sebuah pemikiran kritis dan tindak lanjut yang pasti dan akurat.

Sistem pendidikan kini hanya maju mundur, siswa hanya diberikan teori dan terus dipupuk untuk cerdas pada karakter yang sama. Misalnya, peserta didik hanya menampung apa yang disampaikan guru tanpa mencoba untuk berpikir lebih jauh tentang apa yang diterimanya, atau minimal terjadi proses seleksi kritis tentang bahan ajar yang ia terima. Dalam istilah bahasa arab pendidikan seperti ini dikatakan sebagai taqlid. Artinya menerima atau mengikuti apa saja yang dikatakan oleh para pendidik. Dan ini tidak sejalan dengan substansi pendidikan yang membebaskan manusia (Ki Hajar Dewantara). Peserta didik tidak mampu berinovasi, mengembangkan minat dan bakatnya, belajar dengan pengalaman dan menemukan sendiri. Ibaratnya guru mengeja, siswa mengeja. Tak ada pengembangan berikutnya akan sebuah teori. Berikutnya adanya kurang perhatian terhadap kemampuan dan realisasi staf pengajar. Seorang pengajar hanya mengembangkan ilmu lama, tanpa merevolusi atau memodernisasi sistem. Padahal sebuah kajian, pendidikan bersifat dinamis searah perkembangan zaman. Perkembangan ilmu dan pengetahuan di lingkup pengembangan dunia, jauh lebih meningkat. Mirisnya lagi, minimnya kemampuan dan keterampilan mengajar guru. Bukan satu hal yang aneh, jika seorang murid berprestasi disekolah lebih memilih fakultas kedokteran dan fakultas bergengsi lainnya dibandingkan mengemban kebaikan menjadi staf pengajar. Padahal guru dianggap murid sebagai sumber ilmu dan amat terpercaya.

Banyak hal yang harus dicermati, kita harus memperhatikan seluruh aspek dari atas hingga ke sistem yang paling bawah. Mulanya dari sistem peringkat, dan penilaian. Saat ini siswa yang cerdas dan berprestasi amat sangat menjadi perhatian dari seorang guru. Padahal, sikap merata dan tidak begitu ada jenjang antara yang bodoh dan yang pintar, menjadi solusi yang baik. Guru yang cermat dan fokus terhadap semua murid, akan meningkatkan mental siswa. Penilian/ranking setidaknya dipandang hanya membuat guru berfokus pada murid-murid terbaik saja,  bukan ke seluruh murid. Bukan tidak mungkin jika tak ada istilah ”aku bodoh jadi biarkan dia saja yang berbicara”, tutur seorang murid. Siswa merasa dirinya bodoh, karena peringkatnya buruk. Minimnya niat sehingga menurunkan mental dalam kemauan belajar siswa. Kemudian, mental tersebut terus dibina, sehingga siswa lebih tertekan dan merasa lemah. Dibutuhkannya revolusi untuk menggabungkan kompetensi guru yang tinggi, kesabaran, toleransi dan komitmen pada keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi.  Prinsip cerdas yang harus ditekuni seorang guru adalah ”Jika saya gagal mengajar seorang siswa, berarti ada yang salah dengan cara mengajar saya”. Bukan melindungi diri, dengan mengatakan siswa saya itu bodoh. Selanjutnya butuh perhatian dan kecermatan yang akurat bagi guru dalam memperhatikan mental siswa. Membina dan mengarahkan, tanpa mengkritisi dengan tajam. Sikap tersebut akan menurunkan mental dan semangat siswa.

Mirisnya lagi, sistem pendidikan yang dianut di Indonesia adalah pentingnya hasil dari pada proses. Pembinaan yang mengabaikan EQ dan SQ. Memprioritaskan pada sisi materi. Isinya hanya hafalan, cara cepat membabat soal, dan “ilmu” yang ketika diingat malah makin membuat lupa — tanpa penekanan soal pemikiran kritis dan pembentukan sikap mental positif. Penekanan untuk berkembang menjadi insan yang kreatif, bersemangat, bertanggung jawab dan berkarakter sesuai dengan tujuan bangsa. Kondisinya kini, trilogi dasar yang dikembangkan umumnya pada aspek pendidikan kognitif-psikomotor-afektif (sengaja?)  atau diabaikan. Setidaknya kini ada beberapa usaha untuk meminimalkan kekhawatirkan tersebut. Mengukur dan menurunkan suhu agar setiap kebijakan yang diambil sesuai dan sejalan dan karkater yang diinginkan.

Solusinya dari kajian tersebut dapat diasumsikan sederhana, merevolusi sistem pendidikan. Namun, kajian harus dari tingkat terendah. Yakni pada kajian tingkat dasar atau pada lingkungan keluarga. Unsur dan komponen awal sistem pendidikan yang paling dasar dan penting. Sistem pendidikan informal yang memegang peranan penting. Jejak awal mula pendidikan seorang siswa. Meminimalkan pengaruh-pengaruh negatif dari lingkungan sekitar dan merevolusinya menjadi pengalaman-pengalaman belajar. Kemudian mengembangkannya pada pola-pola baru yang lebih sederhana. Membawanya pada lingkup pendidikan formal. Dengan sistem pendidikan baru yang lebih bersikap demokratis, cermat, tepat dan dan akurat. Misalnya sejak awal, murid diajari bertanggung jawab mengevaluasi dirinya sendiri. Mereka didorong untuk bekerja secara independen. Guru tidak mesti selalu mengontrol mereka. Tapi membina proses pembelajaran berjalan dua arah. Suasana sekolah boleh dibilang jadi lebih cair, fleksibel, dan menyenangkan. Namun efektif, sehingga membantu membawa kondisi belajar yang diharapkan. (arin).

 

.

 

About FRANSORI

Unik person
This entry was posted in Catatan Kecil. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s