Essay, Jejak Belasungkawa Negeriku

pasarkreasi.com

Merunduk menundukan kepala untuk negeriku. Berpikir mencermati bagaimana lagi bangsa ini tergopoh-gopoh merantai hari. Untuk senyum Indonesiaku. Haruskah aku mencari bunga mawar hitam, untuk negeriku. Menyoroti jejak-jejak peristiwa kelam yang terjadi. Hanya untuk membukakan mata, menyadarkan hati dan diri untuk melakukan pergerakan yang nyata sebagai bentuk apresiasi untuk negeri ini. Berjuang tanpa perlu diawali sebuah wujub belasungkawa. Semua yang dilakukan harus murni, pamrih dan tulus. Jangan memberikan satu umpan untuk sebuah peristiwa yang mampu dihindari maupun dicegah semua itu sama halnya menyapu lantai dengan sapu yang kotor, menyisakan jejak-jejak pasir kemudian membersihkannya lagi berulang kali. Sebuah perumpaan untuk pekerjaan yang sia-sia. Ungkapan untuk menyadarkan relung hati bahwa lebih baik mencegah dari pada mengobati. Kumpulan kata yang biasa kita dengar yang merupakan pelajaran dan himbauan agar selalu waspada dan bertindak cermat, cepat dan tegas. Seperti nasionalisme, sebuah ungkapan yang mengajarkan untuk cinta tanah air. Kata ini merupakan sebuah klise yang dianjurkan dan hanya akan menjadi sebuah wacana. Seperti wacana yang berjudul tak memiliki makna, tanpa tujuan dan hasil. Nasionalisme akan seperti kaleng kosong, jika tidak adanya objek dan pergerakan yang nyata.
Komponen nasionalisme; sebuah pemikiran yang ditanamkan didalam jiwa agar berupaya dan bekerja demi bangsa dan negera. Selanjutnya sebuah nasionalisme merupakan tindakan yang mengajukan sebuah apresiasi, baik berupa gagasan, ide kreatif dan bertindak kritis mengusung hal tertentu untuk kepentingan bangsa. Tindak lanjut dari sebuah apresiasi diri untuk nasionalisme menghasilkan pengalaman dan sebuah pengajaran berharga untuk satu buah harapan baru yang lugas. Membimbing dan mengarahkan untuk satu tujuan yang bermanfaat bagi kepentingan negeri. Jangan hanya sekedar jalan ditempat pada jejak-jejak yang sama, mengulang sejarah yang sama yang berujung pada sebuah dramanisasi nasionalisme semu. Memberikan jejak-jejak baru pada kaum pemuda yang menyimpang karena salahnya sistem dan penerapan.
Generasi muda merupakan generasi penerus, yang bertanggung jawab akan berdiri kokohnya bangsa ini. (Pemuda = Bagian Nasionalisme – Inti Nasionalisme – Motor Penggerak Suatu bangsa). Pemuda merupakan sebuah partikel kecil yang akan bersatu menjadikan sebuah bangsa yang kuat dan tegap berdiri. Menghadang pengikisan yang terjadi dan terus membangun kembali. Oleh karena itu, bangsa ini butuh generasi yang aktif, kreatif dan inovatif. Bukan hanya menjadi generasi penerus yang anemia. Generasi yang pasif, tanpa pergerakan, dengan alur datar dan apa adanya.
Tanpa adanya proses perjuangan dan pengalaman yang cerdas generasi muda akan mati. Condong pada kegiatan yang menggiurkan bahkan terjebak atau terjerumus pada tindakan yang salah atau merugikan. Tanpa arahan dan bimbingan terkadang pemuda akan memilih sebuah tantanggan yang berisiko tanpa sebuah pemikiran yang cerdas dan cermat terlebih dahulu. Lebih mengutamakan emosi dan rasa ingin tahu, sehingga menjadikan generasi muda yang rendah diri dan pasif dan ceroboh. Generasi yang dinamis dan indivudualis tanpa perduli akan lingkungan sekitarnya.
Didalam sistem sosial masyarakat generasi muda memegang peranan penting. Contohnya pada mahasiswa yaitu; sosial control yang membentuk opini masyarakat terhadap suatu pokok permasalahan. Sedikit berpikir logis, bagaimana negeri ini akan berpikir cerdas jika generasi mudanya rendah diri bahkan acuh tak acuh. Masyarakat akan jatuh dan terpuruk pada paradigma yang samar-samar dan membingungkan.
Demi sebuah nasionalisme yang nyata dan tepat, dibutuhkan generasi muda yang tangguh. Bukan generasi muda yang tinggal di kota mati. Generasi muda yang bertutur dan bertindak demi kepentingan diri dan hanyut dengan egoisme masa muda. Sebuah pandangan yang hanya fokus pada hiburan dan kesenangan semata. Selanjutnya hanya berdalih pada kata pencarian jati diri, sehingga lupa akan tanggung jawab utuh sebagai putra bangsa. Bertirai pada kata ‘untuk sebuah proses pendewasaan diri’, sehingga generasi muda jatuh dan tercebur dalam dunia remaja yang menegelamkan. Mencoba sesuatu yang baru dan tanpa disadari melupakan sesuatu yang menjadi dasar dan pokok bagi kehidupannya. Selanjutnya akan membawa ke tahap-tahap regenerasi penurunan mental sosial pemuda.
Beberapa contoh nyata jejak belasungkawa yang ditorehkan pemuda, yaitu; bersikap acuh tak acuh terhadap suatu budaya daerahnya sendiri. Tak ayal pemuda lebih suka kesenian/musik modern daripada kesenian daerahnya sendiri. Berpaku pada kata “kuno’, “norak” atau “nggak gaul”, sehingga budaya baru mengikis niat pemuda untuk belajar dan mencintai kesenian tradisional. Hal ini bukan hanya terjadi di suatu daerah, tapi hampir keseluruhan dari negeriku. Suka bukan berarti dosa, tapi tetap mengusung cinta budayaku. Satu jejak nyata belasungkawa negeri ini, yang kini terjadi lagi. Sebuah tutur kata lisan untuk negeri ini. Untuk sebuah nama yang diakui bangsa lain. Tak perlu namanya disebut, kita semua tahu. Identitas Indonesiaku, di akui di namai untuk bangsa lain. Perih, kecewa, marah dan berang. Untuk tarianku Pendet, untuk senandung yang kita dendangkan Rasasayange. Tak bermaksud lupa atau tak menghargai budaya negeri, tapi hanya sekedar tak mawas diri. Seniman putra bangsaku mencintai dan belajar serta dengan tekun menjaga dan melatih diri. Tapi, hanya sedikit lalai dan santai. Angkat kepala dan bangkit, ukir nama untuk budaya negeriku.
Indonesia tercipta beraneka ragam, begitu banyak nama yang perlu diingat hingga sulit tercatat. Negara bhineka dengan beribu-ribu keanekaragaman, tapi seiring bergeraknya peradapan dengan gegap gempita gegar budaya menenggelamkan pemuda pada momok realita budaya baru yang dianggap jauh lebih sempurna dan menarik. Saat ini yang dibutuhkan sebuah tajuk baru, yang membangkitkan semangat generasi muda. Wacana dan pemikiran baru untuk Indonesiaku. Bukan sekedar wacana yang hanya menghimbau dan menyarankan. Toh jika hanya bicara siapa yang hendak mendengarkan? Tapi kali ini harus bertindak tegas, jelas dan rapi. Satu pandangan keras yang membimbing dan menumbuhkan kembali kebanggaan atas sebuah keanekaragaman. Jika hanya himbauan hanya menjadi kata-kata semu yang tak berisi bahkan tak berguna. Cara sederhana yang dapat dilakukan berupa sebuah perhelatan budaya /seni. Tak perlu akbar dan meriah untuk awalnya, sederhana kecil dan mencakup lingkup yang tepat sasaran jauh lebih berharga. Misalnya dalam lingkup sekolah maupun lingkungan masyarakat kecil. Sebuah kompetisi kecil berupa kegiatan budaya/kesenian yang diikuti oleh anggota masyarakat /sekolah. Kegiatan ini cukup efektif untuk memperkenalkan maupun menanamkan rasa cinta akan kegiatan budaya/seni. Semua ini bertujuan untuk mengingatkan bahwa adanya sebuah budaya/seni yang unik dari daerahku yang wajib dijaga dan dilestarikan. Ada ungkapan “bisa ala biasa” jika sudah terbiasa maka akan bisa, pandai serta mahir. Sama halnya untuk budaya/seni sehingga akan tertanam didalam diri kita. Bukan hanya perasaan menghargai tetapi malah mencintai.
Jika kita kembali menelaah, bagaimana potret kehidupan masyarakat kita. Apakah sudah sesuai dengan harapan? Masih banyak masyarakat yang resah akan kekurangan dan kemiskinan. Tetapi tak sedikit pula masyarakat yang hidup berkecukupan. Masih banyak jiwa-jiwa yang merasa tidak adanya ketidakadilan. Hanya kalimat itu yang mungkin kita selalu dengar dari kolom koran-koran. Keluhan, rintihan bahkan sindirin. Tapi sedikit sekali yang menyorot sisi kesadaran individu. Rasa nasionalisme hadir dalam diri, tapi tak tahu pasti sejauh mana rasa tersebut terealisasi akan perbuatan yang nyata. Mungkin diri kita sendiri pun tak menghiraukannya. Tapi yang jelas kita akan melakukan hal terbaik untuk negeri ini. Inilah salah satu pola pikir kita saat ini. Rasa nasionalisme mungkin bisa diibaratkan sebuah wacana. Wacana yang selalu kita dengar dan dianggap biasa. Entah itu sebuah peraturan atau hanya sekedar anjuran. Contohnya, semua orang tahu, bahwa menggosok gigi sebelum tidur itu sangat penting bagi kesehatan mulut dan gigi. Tapi apakah semua orang melakukan hal tersebut? Apakah semua orang mencuci muka sebelum tidur? Lalu pada kenyataannya ada juga orang yang langsung ke tempat tidur tanpa mencuci kakinya terlebih dahulu. Dapat disimpulkan, hal ini bisa dikatakan mengenai soal tahu dan soal mau atau tidak melakukannya. Tahu saja mengenai hal tersebut lalu tidak mau melakukan, siapa yang bisa melarang. Mungkin di negeri ini orang pintar banyak, tetapi bagaimana dengan orang yang berwatak/berbudi. Sebuah pilihan, lebih baik menjadi pintar dulu atau berwatak dulu? Sedikit menggelitik, sebuah pertanyaan ini. Sudah jelas, jika semua orang akan menginginkan keduanya. Lalu bagaimana dengan realisasinya. Hal ini cukup sulit, minimnya kesadaran diri untuk akan membuatnya sirna. Tapi, ada pandangan jika ilmu seseorang semakin banyak, maka semakin menghargai perturan, semakin mengenal etiket, sopan santun dan berwatak. Tapi adakah yang bisa menjamin? Semua kembali kepada kesadaran masing-masing individu. Toh’ malah makin tinggi ilmu, terkadang lupa akan hal yang sederhana. Jadi untuk apa belajar tinggi tetapi yang rendah belum kita ketahui.
Sebuah kajian mengenai sebuah kesadaran diri. Nasionalisme butuh pergerakan, butuh tindakan yang didasari dari dalam diri, sehingga menghembuskan semangat dan kinerja yang apik. Kita berpikir saat dibangku sekolah kita mengikuti kegiatan upacara bendera adalah bentuk nasionalisme. Tapi pernahkah kita ingat sejauh mana bentuk keseriusan tersebut. Terkadang kita berpikir hal itu hanya rutinitas biasa. Masyarkat umum, pelajar mahasiswa, maupun para pejabat dan para pegawai pemerintah lainnya juga melaksanakan kegiatan tersebut. Inilah bentuk kecil dari nasionalisme, kegiatan ini mengingatkan kita, untuk terus menjaga dan membangun bangsa ini. Dengan mengibarkan sang bendera merah putih, suatu lambang kebanggaan yang diraih dengan keringat dan darah. Mampu menimbulkan hasrat kita untuk terus menyingsingkan lengan baju untuk negeri ini. Tapi mengapa? Jejak belasungkawa kembali mengukir, Contoh sederhana dan kecil ini kembali ternoda. Rendahnya kesadaran akan nasionalisme tak pernah terlintas dipikiran. Sedikit menginggat bagaimana kita menghormati bendera merah putih? Masih ada orang yang tidak berdiri dan menggangkat tangan saat lagu kebangsaan dinyanyikan, saat bendera kebanggaan dikibarkan. Siapakah mereka? Masyrakat umum, mahasiswa atau bahkan pejabat pemerintah. Contoh lainnya yang lebih akurat, ternyata masih ada orang-orang yang tidak bisa menghapal lagu Indonesia Raya. Pahit, sedih dan getir bagaimana bisa kita membanggakan negeri ini, jika kita tidak tahu bagaimana bangsa ini sesungguhnya.
Sedikit menoleh kebelakang, perputaran perubahan zaman, dengan himpitan era globalisasi membawa kita ke arah yang terpuruk dan lupa akan tanggung jawab dan kewajiban kita untuk bangsa ini. Misalnya, dengan tuntutan perkembangan zaman, pesatnya peningkatan Iptek dan tekhnologi membawa kita/ pemuda khususnya lupa akan tugas dan kewajiban. Hal ini akan membawa kita menjadi individu/masyrakat tertinggal atau terbelakang sehingga kita lupa akan cita-cita negeri. Seiring pesatnya tekhnologi individu justru menjadi “budak” dari suatu sistem atau perlengkapan iptek. Individu yang seharusnya menjadi subjek malah menjadi objek dari sistem/perlengkapan tersebut. Lalu mengapa demikian? Hal ini dikarenakan individu membuat dirinya jatuh akan gemerlap duniawi, tenggelam akan hasrat dan kemilaunya hiburan/kesenangan sehingga kita menjadi lupa diri. Berimbas menjadikan individu sebagai hamba dari teknologi digital. Sebuah objek lagi bahwa jejak belasungkawa negeri ini kembali tersirat. Contoh konkret yang dialami pemuda dengan pesatnya perkembangan tekhnologi, yakni para mahasiswa, pelajar atau pegawai yang terjangkit virus “online”. Banyak waktu tersita untuk sekedar bersuka ria di dunia maya. Tanpa disadari menjadikan diri kita ketagihan bahkan melupakan tugas dan tanggung jawab. Perlunya pengendalian waktu, sehingga menjadikan kita sebagai individu yang cermat dan selalu bermanfaat. Adanya keseimbangan antara kemampuan Iptek dan Imtag akan menjadikan pemuda yang berprestasi dan berbudi pekerti luhur.
Selanjutnya sebuah pertanyaan muncul, bagaimana menjadi pemuda yang berprestasi dan berbudi luhur. Mungkin semua orang tahu, ada ujaran mau pintar makanya belajar. Jawaban yang sederhana, lalu bagaimana dengan aplikasinya? Banyak yang angkat tangan untuk mengatasinya. Hal ini kembali lagi kepada motivasi diri yang dimiliki individu, baik dari internal dan eksternal. Kemudian bagaimana dengan sikap budi pekerti yang luhur? Semua kembali lagi pada kesadaran dan keteguhan akan suatu kenyakian yang ada dalam diri. Sejauh mana mampu bertahan untuk menjadi seseorang yang terbaik. Sebesar mana prinsip untuk teguh dalam pertahanan diri melawan tantangan. Semua kegiatan ini memerlukan dorongan dari berbagai faktor, baik dari lingkungan maupun dari diri sendiri.
Sedikit demi sedikit jejak belasungkawa negeri ini terkikis, atas kinerja anak bangsa. Dengan bertahap semangat nasionalisme bangkit, membawa ke gerbang baru yang membawa harapan. Banyak hal yang dilakukan untuk membangkitkan jiwa nasionalisme, misalnya melaksanakan kegiatan-kegiatan untuk masyarakat dan kelompok-kelompok tertentu. Misalnya yang selalu kita lakukan yaitu memperingati hari-hari besar nasional, bukan hanya kebangkitan nasional. Melaksanakan kegiatan kependidikan dengan tambahan kegiatan nasionalisme, yaitu dengan kegiatan sederhana seperti ekstrakulikuler disekolah. Bukan hanya khusus kegiatan pramuka atau paskibra saja, tetapi kegiatan seni juga bisa dikaitkan dengan nasionalisme. Misalnya pementasann drama mengenai tokoh sejarah atau pahlawan. Hal kecil lain, dengan lebih mencintai dan menghargai apa yang kita miliki (bansa ini) dengan menjaga serta melestarikannya adalah bentuk nasionalisme. Sedikit contoh lugas, kegiatan menulis esai nasionalisme ini juga membangkitkan semangat pemuda untuk cinta tanah air. Menyadarkan bahwa pentingnya peranan pemuda dalam pembangunan dan berusaha sesungguhnya untuk menjadi Indonesia.

KEM 2009

About FRANSORI

Unik person
This entry was posted in Bahasa dan Sastra. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s