Cerpen (Jakarta Tak Pernah Salah)

Jakarta Tak Pernah Salah

inikian.wordpress.com

Aku ibukota, ramai penuh sesak dan padat. Semua orang sesungguhnya mengagumiku, mencintaiku dan menghujatku. Tepian-tepian sudut kotaku tak bertepi, setiap sudut jalan berisi, kotoran, sampah-sampah manusia yang tak sengaja dilupakan atau memang sisa-sisa debu jalanan. Manusia-manusia miskin tak beguna, pengganggu masyarakat dan dianggap hina. Sebenarnya siapa yang hina???

”Aku atau Jakarta?”

Atau manusia-manusia elit yang tak bermoral mengaku sangat berharga? Dengan gelimpangan harta disetiap jengkal lekuk tubuhnya. Emas dan pertama melingkari jari, pergelangan tangan dan sepatu kikuk yang berlinang. Hiasan di lekuk kerah baju yang menahan tulang-tulang leher yang selalu melihat ke atas? Mereka kaum elit kah yang bersalah?

Pada kami? Pemulung, pekerja kasar, buruh, dan insan lain yang di anggap rendah. Aku tak mengerti. Yang ku tahu kini, aku seorang tua yang berbaris dengan kerumunan sampah, yang bernyanyi dan tertawa diatas debu-debu tanah merah Jakarta.

Aku berdiri memperhatikan suasana stasiun kereta yang tiap pagi memang ramai. Lalu lalang penumpang bersiul menanti keberangkatan. Serpihan pagi menyatu dengan sinaran mentari, berbaur dengan asap mengepul kereta. Riuh rendah suara kereta berpadu dengan teriakan pedagang kacang keliling dan seruan penjual rokok yang membisingkan. Setiap pagi selau begitu, tak ada yang sepi. Tumpukan-tumpukan barang penumpang lalu lalang, suara gesekan-gesekan gerbong dan peluit bergema serta suara peringatan dari operator PT. KAI silih berganti berbunyi.

Aku merenggut’

Memunggut sisa-sisa sampah tak berguna, tapi sesungguhnya ini berkah bagiku. Satu buah botol plastik sisa air mineral menjadi sebuah benda untuk menafkahiku. Sesungguhnya aku kasihan, entah pada diriku atau sampah-sampah ini. Mungkin nasipku sama dengannya. Aku berjodoh dengan sampah ini, oleh karena itu aku berbaur dengan mereka. Setiap detik dan menitku aku bersama sampah-sampah ini.

Yang ku ingat satu, aku seperti mereka. Mungkin diriku dianggap seperti sampah bagi ibu kota Jakarta. Rumahku megah dan besar, berkolong-kolong, gelap dan dingin. Tanpa perlindungan, suhunya sedikit sama dengan ruangan ber-AC. Dingin dan tak mungkin membuatku kepanasan. Sayup-sayup angin merasuki tulang-tulang rusukku di malam hari. Tiupan angin sepoi menerbangkan selimut-selimutku yang nyaman itu, selimut kardus yang hangat. Semua yang ku anggap indah itu, mungkin bagi sebagian orang itu adalah hiasan. Hiasan untuk sudut-sudut ruang Jakarta. Rumah-rumah indah yang dengan sekejap dibangun, dengan sisa triplek dan kardus. Rumah impian bagi kami yang tak punya tempat berteduh. Ya rumah itu, rumah petak-petak berwarna kelabu. Di sudut pinggiran kota Jakarta.

Indah”

Pikirku dengan damai.

Aku kembali melangkah menuju, tempat pemberhentian berikutnya. Ya, beranda 009, nomor kode kotak sampah berikutnya. Di samping loket stasiun, kotak yang di jejali sumber-sumber makanan bagiku.

*          *          *

Tut..tut..tut…

Berkali-kali riuh rendah suara kereta bergema. Kedatangan kereta berikutnya, dari sebuah desa kecil. Desa yang ku kenal, karena aku tahu, kereta itu berwarna biru, merah, kelabu. Kereta dengan tujuan dan kota keberangkatan yang sama. Kerata yang sama yang membawaku dulu ke kota indah ini.

Manusia berdesakan, keluar dari kereta. Ekspresi kagum, lelah, senang, heran dan acuh terlihat dari setiap lekuk wajah penumpang. Ku perhatikan seorang pemuda, berperawakan tinggi, hitam dan tegap. Dia berdiri tak jauh dariku. Menjinjing barang-barang bawaan, tangan kanan menjinjing kardus dan tangan kiri kantong plastik. Memikul ransel hitam lusuh, dengan dandanan seadanya. Kaos  berwarna pucat, dengan celana jeans robek yang mungkin itu jeans terbaik miliknya.

Aku melamun, memandang wajah polos dan lugunya. Mengingatkan aku akan sosok diriku dulu. Diriku yang muda masih bersemangat dan penuh angan. Masih bergelora dan percaya diri. Masih hijau, dan berjiwa muda tak takut mati. Aku ingat diriku dengan melihatmu, aku bercermin pada sosok yang sama.

Sekali lagi, aku memperhatikan ekspersi senang dan kagum dari wajahnya. Bisa ku tebak banyak pertanyaan dihatinya. Ku tahu itu dari tiap-tiap lekuk garis wajahnya. Sebenarnya, aku ingin mengucapkan selamat datang padanya. Selamat datang di Ibu kota Jakarta.

Ya kota, Jakarta.

Kota yang dulu ku dengar sebagai kota impian. Kota yang mampu menyihirku menjadi seperti ini. Dan kota yang mampu mengubah seseorang menjadi lupa ingatan. Lupa akan tujuan, lupa akan jati diri dan asal usulmu. Kota yang bisa dengan sekejap mengubahmu jadi kaya, miskin, hina ataupun di kagumi.

Tapi hanya perumpamaan buatku. Jalanku berbeda, mengubahku menjadi hina, mengubahku menjadi miskin dan tak berguna. Membuatku hilang akal, membuatku hilang asal. ”Membuatku menjadi sampaah Jakarta”.

Aku terdiam, memikirkan ulang jalan hidupku. Mencoba mengulang kisah kejam, dan kisah mengerikan itu. Membuatku menjadi seperti ini, seperti binatang berkeliaran di malam-malam Jakarta.

Niat awalku menginjakan kaki disini untuk mengadu nasip. Mencoba peruntungan dengan mengacak dadu. Menerka-nerka dan mengumpamakan, aku tetap melangkah dengan janji-janji palsu yang diucapkan setiap orang. Aku berangkat bermodalkan nekat dan uang hasil penjualan sawah petak kecil milik bapak. Aku berangkat dengan seorang tetangga jauh. Ia mengaku bekerja dan sukses di Jakarta, tapi aku tak tahu itu hanya dusta. Ia hanya bekerja sebagai pekerja kasar dan pekerja sampingan sebagai resedivis.

Bodoh aku mengikuti dan percaya akan mulut manisnya. Awalnya aku bekerja dengan aman menjadi buruh. Hidupku tenang dan damai, walaupun makan dan hidup seadanya. Tinggal dirumah kontrakan kecil, makan dihitung perhari. Ya, walaupun sesungguhnya aku tidak bisa bertemu nasi setiap hari.

Namun aku iri atas diriku, yang tak berguna ini. Aku tak cakap, aku lemah dan lambat. Ijazah tak bermodal, apalagi keterampilan. Aku hanya bisa menjadi kuli pengangkut dan menjadi buruh kasar. Kehidupan berjalan merangkulku untuk lebih paham akan Jakarta yang kejam dan sombong itu. Kehidupan dimana aku bertemu dengan orang yang rakus harta, kekuasaan dan menggagung-agungkan derajat. Tapi aku tak perduli, aku bahagia menikah dan punya seorang anak. Aku hidup sebagai keluarga miskin yang tinggal di tepian Jakarta.

Tapi satu hal ku sesalkan, aku tersesat. Aku sombong dan lupa diri, aku terbuai oleh lautan malam kehidupan Jakarta. Aku bertemu manis dan indahnya malam-malam Jakarta. Aku mulai mengenal kartu-kartu judi, aku mulai singgah di tempat gelap-gelap itu. Hingga aku lupa, bahwa aku adalah Karto seorang pemuda desa yang lugu yang mengadu hidup di Jakarta.

Aku tersesat, aku malas dan tak mau lagi bekerja. Aku menyerah, aku memilih untuk lelap dalam mimpi. Bukan bangun dan bangkit! hingga aku mengenal jeruji besi dan menghuni Nusa Kambangan.

Sependek singkat kehidupan aku sebagai sampah Jakarta. Aku keluar dari panti rehabilitasiku bagi seorang penjahat kelas teri dan berprofesi hina sebagai pemulung hingga kini.

*                      *                      *

Aku tersadar dari lamunan, aku melangkah mendekati pemuda itu. Ku sapa ramah dan berusaha tak membuatnya curiga. Tapi selanjutnya aku diam seribu bahasa. Tatapan mataku kosong, namun di pikiran otakku bekerja keras.

Pemuda, ku katakan padamu. Aku bertutur dalam hati, sebaiknya kau angkat kembali kardusmu itu. Bawa lagi ranselmu ke dalam kereta. Mengantri lagi ke loket, ambil karcismu dan kembali lagi ke desa. Temuilah emak, bapak dan kerbau-kerbaumu itu, bermainlah di kubangan lumpur dan dentuman panas matahari desa yang menyengat kulit. Itu lebih indah, dari pada disini berkerumun dengan jutaan orang yang sombong, dan acuh. Bertempur dengan waktu dan kejaran arus kota Jakarta yanng kuat dan kejam.

Pikiranku terus menerawang dan berpikir, beradu memikirkan kata-kata. Dari setiap detak nafasku ku tuturkan kata-kata ini di dalam hati.

Ku berikan satu nasehat buatmu pemuda.

”Diam-diamlah di desa, boy!”

Jika kau tak tahan banting, jika kau tak terampil dan jika kau tak kuat iman.

Semua akan tergerus oleh arus kota ini.

Ku katakan lagi,

Jika kau tak pandai membawa dirimu, kau akan jatuh.

Buang pikiranmu, kau akan sukses. Jika kau hanya berpangku tangan sepertiku.

Sesungguhnya, ingin ku katakan isi pikiran ini padanya. Tapi untuk apa, percuma tak ada berguna. Siapa yang percaya akan ucapan pemulung tua sepertiku.

Aku masih terdiam, pemuda itu hanya menunggu dan sesekali melirik jam dipergelangan tangannya. Sungguh pemuda, aku ingin tahu. Apa yang mereka janjikan padamu. Apa yang mereka katakan padamu, bahwa Jakarta itu ladang uang, mesin pencetak uang. Tempat menampung jutaan pekerja? Ah’ itu hanya bualan, itu omong kosong. Jakarta hanya butuh orang yang cerdas, tangkas dan terampil dan tekun. Jakarta tak butuh manusia malas dan bodoh seperti aku. Jakarta bukan tempat yang menyenangkan, bukan kota impian, bukan satu-satunya jalan kesuksesan dan kebahagian.

Ku simpulkan, mereka semua salah. Seharusnya tak kutanamkan di hatiku bahwa Jakarta kota impian. Jakarta kota kejam dan penat. Membawa dan membimbingku ke jalan kehidupan ini. Kehidupan yang tak diinginkan setiap orang. Menjadi seorang pemulung tua dan hidup sebatang kara di Jakarta. Apakah ini dinamakan kehidupan? Jika aku makan dengan sisa-sisa serpihan orang.

Tak adil, tak seharusnya ku pilih jalan ini.

Tuturku ku sesalkan dalam hati, andai aku didesa bersama emak dan bapak menjadi petani. Menjadi petani sederhana, berkubang dengan lumpur coklat itu.

*          *          *

Aku masih berdiri dekat pemuda itu, dia tersenyum padaku. Mendekat dan bertanya, bapak tahu daerah ini?” tuturnya sambil menunjukkan kertas usang yang bertuliskan alamat.

“Oh, kamu baru tiba di Jakarta ya?” tanyaku.

”Benar”

”Tempat itu cukup jauh dari sini, kamu bisa menggunakan bus jika ingin kesana.” jawabku pelan.

“Terima kasih Pak”, tuturnya.

“Kau mau kesana sendiri, tapi saranku hati-hati dengan kota Jakarta yang kejam ini, nasehatku lagi.

“Memang ada apa dengan Jakarta Pak?”

”Kota ini kejam, dan jika kau tak terampil dan cermat kau akan kesusahan”.

”Ya, bapak, sering ku dengar kata-kata itu”, jawabnya lugas.

”Bagus jika kau tahu, tapi satu yang bapak sesalkan hingga kini. Seharusnya bapak tak pernah menginjakkan kaki disini. Sengsara hidup di Jakarta, miskin harta, menjadi sampah dan hinaan”, ucaku lancar dan penuh sesal.

Pemuda itu diam, mendengar perkataanku. Ia bergeming dan kembali menghela nafas.

Janganlah bapak alih-alihkan Jakarta ini yang kejam. Tapi diri kitalah yang kejam menghardik Jakarta yang tak tahu apa-apa. Bapak-bapak, janganlah bapak sesalkan hal itu. Bapak cuma miskin harta, dan hidup sengsara saja sudah menyesal. Tapi pernahkan orang lain menyesal akan yang telah dilakukannya. Mungkin mereka tenang-tenang saja, duduk-duduk nyaman di kursi kalangan elit. Mereka tak menyadari apakah mereka orang yang miskin moral, atau orang yang miskin kejujuran. Koruptor saja, yang miskin kejujuran menjuntaikan kaki dari kursinya. Mereka kenyang, hidup layak dan itu menyenangkan. Sudahlah Pak! saranku, syukuri saja jika kita sudah bisa makan 3 kali sehari. Janganlah banyak berpikir yang bukan-bukan dan terlalu teoritis seperti itu. Otak kita mungkin sama kerdilnya dengan penipu elit itu”, ucap pemuda itu sepintas lalu pergi meninggalkanku.

Tamat

Palembang, 22 Maret 2010

21: 45 – 22:57

Peksiminas, 2010

About FRANSORI

Unik person
This entry was posted in Bahasa dan Sastra. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s