Catatan “September Ceria”

Catatan untuk moment, buka bersama mahasiswa PPL SMP Negeri 6 Palembang. Jum’at 3 September 2010.

at: Waroeng Steak & Shake

Makna bulan, identik dengan gembira. Istilah September Ceria begitu melekat dibulan ini.  Entah bagaimana dan bentuk momentnya, tapi untuk kali i, mungkin September Ceria di kala Bulan Ramadhan menjelang.

Makanan, minuman dan camilan kecil dicari. Memburu makanan dan hidangan yang menggugah selera. Bermacam-macam ragam dan aneka rasa makanan favorit yang disajikan saat berbuka puasa.
Sore itu, macet. Lalu lalang kendaraan bermotor. Menghambur di jalan Sudirman. Orang-orang riuh ramai, berceloteh, melirik kanan kiri mencari dan memburu toko-toko. Jejak-jejak langkah kaki mereka rata, menenteng asoi, tas, atau hanya berlenggang santai. Pemuda, tua, anak-anak. Dari umur dibawah rata-rata atau setengah baya. Memenuhi trotoar kaki lima yang terpaksa penuh sore itu.
“Maklum hari raya”!
Gagap, seorang penjalan kaki udik yang baru mengijakkan kakinya disini.
H-7 semua orang memburu perlengkapan hari raya, memenuhi kebutuhan yang entah primer atau sekunder. Yang jelas semua itu termasuk rutinitas rutin dihari menjelang lebaran.

Buka bersama, “ngabuburit’ merupakan khasanah budaya. Melengkapi dan menghiasi sore-sore ditiap-tiap bulan Ramadhan. Indah, ramai, meriah. Mereka berkumpul, berkoloni dan berjejak bersama di warung-warung makan kaki lima, kafe-kafe kelas ekonomi hingga di ballroom hotel kelas 5.

Seperti kami disini.

Kelompok pemuda anyar, calon pendidik atau sebagai suri tauladan. Kami calon-calon sarjana. Mahasiswa semester banyak. Dengan nama koloni sebagai anggota PPL SMP N 6 Palembang. Kami maju bergegas, berkumpul menghabiskan sore dan berbuka puasa.

Steak menu makanan yang dipilih kali ini. Entah bagaimana bisa, terpikir memilih menu ini. Makanan luar, asing dan berlemak. Daging yang dipanggang hingga menjadi coklat, dengan tambahan sayur. Disajikan di atas piring khusus, yang masih meletup-letup bila baru diangkat.

Makan malam ini, steak!
hahaha…
Kita tak biasa makan daging tanpa nasi. Rasanya perut enggan menerima.
Ya, iyalah. Menu makanan Indonesia, menurutku jauh lebih bersahabat.

Makan dengan pisau dan garpu yang bikin ruwet. Memaksa kita untuk memotong dengan tangan kanan dan menyuap dengan garpu dengan tangan kiri.
Hmmmm….
Sesungguhnya dalam islam, tidak baik makan menggunakan tangan kiri!
Tapi entahlah, ini hanya sekedar soal makan.

Semua itu pada mulanya, potongan lembar kenangan

Kami, pemuda belia. Mencatat hari ini sebagai suatu molekul kehidupan. Sebagai wujud perjalanan dan pengalaman. Penentu unsur-unsur suatu zat dan mozaik kehidupan kami. Menentukan dan mengisi tiap-tiap detik kekosongan waktu dan suasana. Semilir waktu itu, malam dan suasana riuh restoran menjamur. Membangkitkan suasana malam yang gelap. Di luar jalan tak kalah bersaing, simpang 4 lampu merah. Bergerigi dengan rapatan-rapatan barisan kendaraan. Roda-roda, lampu-lampu warna warni membanjiri ruang-ruang malam itu.
Ini dan itu semuanya wujud makna dan realita kami, sebagai seorang teman, sebagai sesama kolega atau sebagai pesaing dalam kehidupan sesungguhnya. Tapi entahlah, yang jelas kami kini adalah teman. Teman yang saling berbagi, bertegur sapa. Bercerita bercengkrama dan bersenda gurau bersama.

Persahabatan, istilahnya.

Persahabatan, entah wujud penjamin, pengikat atau hanya istilah semata. Dalam ruang waktu setengah bulan kami bersosialisasi. Menjamu dan mencatat perilaku masing-masing dalam jurnal harian pikiranku. Mencatat tanda-tanda dan karakter masing-masing teman. Hingga saling bisa mengerti, memahami dan menghargai. Baik antara aku, kamu dan dia. Semua istilahnya sama dan sama.

Inilah, lembar-lembar mozaik kedekatan kami. Jepretan cahaya yang menghasilkan tema dan kenangan. Galeri molekul kehidupan yang terurai dalam lembar bingkai kehidupan.

Foto potrait, bercerita tentang kami.

Titi, Ambar, Reni dan Eja.

Foto Potrait 2

Reno, Dody, Arinah Yetty.

Foto Potrait 3

Lihat yang diatas.

Foto Potrait 4
Apri dan Arin

Entah apa istilahnya, semua hal bermula. Persahabatan itu istilahnya seperti matahari yang selalu menyinari bumi. Memberikan nyawa dan kehidupan dalam denyut nadi masing-masing insan. Persahabatan itu seperti bintang, yang akan selalu setia menemani bulan. Menemani dan memberikan cahayanya pada bulan yang pudar. Bulan yang tak memiliki sinar, yang seolah diam dalam gelap.

Tak ada banyak istilah lain untuk teman. Waktu dan demi detik dihabiskan dalam sekali bertemu. Kita berbagi bercerita dan berbagi kebahagian. Seperti tadi, antara aku, kau dan dia.

Foto Potrait 5

Yetty dan Arin

Foto Potrait 6

Titi, Ambar, Reni dan Eja.

Foto Potrait 7
Apri, Arin, Yetti, Ester

Foto Potrait 8

Foto Potrait 9

Dody dan Titi

Foto Potrait 10
Ester dan Dody

Foto Potrait 11

Vebi, Arin dan Dody

Foto Potrait 12

Eja dan Reni

Foto Potrait 13
Arin dan Yetty

Foto Potrait 14
Dody dan Ester

Foto Potrait 15

Ambar, Mujiana, Reni dan Rakhmat

Foto Potrait 16

Weni, Ambar, Titi

Foto Potrait 17

Rakhmat dan Apri

Foto Potrait 18

Ambar, Reni dan Eja

About FRANSORI

Unik person
This entry was posted in Catatan Kecil. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s