CERPEN SIPUT GONGGONG

Aku menyusuri tepi pantai, suasana laut berwarna biru dengan ganggang hijau  dan biru yang jadi penghuninya. Pantai ini masih sepi, tak ada hawa komersil dan semuanya masih alami. Aku disini bukan untuk berekreasi, bukan untuk hiburan ataupun keperluan bisnis dan melakukan investasi. Aku bersembunyi di pantai ini untuk melarikan diri dari semua orang. Aku ingin menyembunyikan diriku di desa yang sepi dan terpencil ini. Ya disini di desa Romomdong, sebuah desa yang memiliki pemandangan eksotik dengan birunya pantai. Desa yang terletak di kota kecamatan Belinyu, yang letaknya sekitar 90 km di sebelah utara kota Pangkal Pinang, Bangka.

Aku tak mengerti mengapa sesunguhnya aku ada disini. Aku berpikir dan tak mengira aku bisa ke pulau ini. Pulau Bangka, yang dulu kisahnya hanya bisa aku dengar. Tapi yang jelas saat ini aku disini untuk Ratmi sahabatku. Ia adalah penduduk asli desa ini. Dia adalah seorang wanita yang tangguh dan bersemangat. Begitu banyak rangkaian kenangan yang ku ukir bersama Ratmi saat kami menempuh pendidikan di sebuah universitas. Di universitas kota asalku, yang mungkin sejujurnya tak jauh dari sini. Hanya di beda pulau tapi saling berdampingan.

Ratmi adalah kenangan, ia teman yang baik. Seorang mahasiswa perantauan yang menempuh masa pendidikan dan menjadi seseorang yang sukses dengan cita-citanya. Aku iri padanya sesungguhnya, ia begitu tekun dan rajin. Sedangkan aku hanya terdiam, dan menjalani hidupku dengan sederhana. Tanpa upaya dan menjalani semua keputusan dengan setengah-setengah, dan kini aku hanya menjadi seorang yang patah arang. Aku kehilangan dia, dan seisi tepi dari bagian hidupku.

Tapi anggkuh memang, aku merasa disini tak nyaman, aku mungkin sulit beradaptasi. Walaupun hanya  untuk 1 hari saja. Namun, Ratmi benar disini begitu indah, tenang dan masih alami. Tak ada sentuhan keangkuhan, tak ada hiruk pikuk yang tak berguna. Tak ada kehidupan yang ramai, dan tak ada keributan yang bersifat klise tak beraturan.

Lama aku berpikir dan melangkah, sampai kulihat di tepian pantai ada seorang kakek tua yang rintih. Ia membungkuk, mengotak-atik air laut dan pasir. Ada sesuatu yang ia cari, entah apa aku pun tak mengerti. Kakinya yang keriput dan hitam legam setengah tenggelam oleh birunya air laut. Tubuhnya yang renta dan rambutnya yang hampir separuh sudah putih, tercekat oleh panasnya mentari. Ku lihat ia letih dan begitu tua untuk berada di tempat ini. Ku dekati ia, aku ingin bertanya dan menyapa.

“Apa yang kakek lakukan disini?” tanyaku sopan. Aku mendekat dan kulihat ia menggemgam sesuatu ditangannya yang tua dan rapuh itu. Kakek tua menjawab, tapi aku tak paham. Apa yang terucap dari bibirnya. Ia menggunakan Bahasa Melayu Bangka, dialeknya yang kental membuat aku sedikit bingung. Dulu kata-kata itu sangat sering ku dengar dari Ratmi.

Kakek tua paham, ia membaca raut muka ku yang bingung. Ia mengangguk kemudian memperhatikan aku dengan seksama. Mungkin ia tahu bahwa aku memang bukan penduduk sini. Dari wajah, gaya bicara dan gaya pakaianku memang mudah diketahui.

“Ini siput gonggong “ ucap kakek tua dengan perlahan. Ia mengulangi kata-katanya pelan dan berusaha menjelaskan. Suaranya yang sedikit serak dan parau itu agaknya sekarang mudah untuk ku mengerti. Sekarang ia berbahasa Indonesia, namun bahasa Indonesia versi Melayu Bangka, karena jujur dari gaya bicaranya dialek Melayu Bangka sulit untuk ia tinggalkan.

Aku tersenyum saat berbicara dengan kakek tua. Ku lihat ia begitu bersemangat, bercerita. Mengenai Bangka, desanya dan kehidupan sehari-harinya. Aku banyak bertanya, hal ini karena rasa penasaranku akan kota ini dan asal usulnya. Mungkin juga hal ini sudah menjadi kebiasaanku, untuk banyak bertanya dan berkomunikasi. Wajar memang karena pekerjaanku sekarang sebagai seorang public relation. Aku bertanya riang ini dan itu, hal unik dan yang baru kutemui disini.

Semilir angin berhembus, aku masih duduk di tepi pantai bersama kakek tua itu. Memperhatikan siput gonggong dari kejauhan di tepi pantai yang menggerus pasir mencari makanan. Dan sekarang aku sedikit biasa mendengarkan dialek bahasa Indonesia Melayu Bangka itu.  Walaupun dialek itu memang sudah ku dengar saat baru tiba disini, dan saat berbicara pada keluarga Ratmi.

Kakek bercerita tentang Pantai Penyusuk ini, pantai yang masih hijau dan biru. Pantai yang kita temukan di jalan lurus dan dari pertigaan desa Rombodong. Pantai Penyusuk tampil menunjukkan keindahan alam yang elok dipandang mata. Dari kejauhan pantai aku melihat batu-batu granit yang menyembul di tepi pantai seolah-olah sebagai perhiasan. Sekali-kali ku lihat pula elang laut dan burung-burung laut lain yang terbang di birunya langit diatas kepala. Semua tampak riuh berputar dan menari menghiasi awan. Kemudian seolah ku tangkap senyum dari Teluk Klabat. Sebuah teluk yang tepat menghadap pantai Penyusuk ini.

Kakek tua juga bercerita mengenai kehidupan sehari-harinya. Ia bekerja serabutan sebagai kuli, nelayan dan terkadang sebagai pencari siput gonggong. Sama halnya yang ia lakukan kini, ia mencari siput gonggong, di saat pantai ini surut. Jika pantai pasang, siput ini mungkin bisa ditemukan pada kedalaman 5 meter.

Siput yang menjadi makanan khas Bangka dan terkadang cukup sulit dicari. Kakek tua mengumpulkan siput dalam karung, kemudian nantinya akan di jual ke pabrik. Siput gonggong di kelola menjadi keripik dan di kemas sebagai buah tangan khas Bangka. Cukup banyak ku pahami hari ini dari kakek, saat pertama kali aku tiba disini. Mengitari dan berkeliling desa ini, sehingga tibanya aku harus pergi dan kembali ke rumah Ratmi. Aku melangkah, meninggalkan kakek dengan senyum dan mengahaturkan ucapan terima kasih.

Saat ini aku telah diberanda kamar, dirumah Ratmi. Malam begitu gelap, menyusup dingin, dengan suasana pedesaan yang sunyi dengan angin laut yang bersayupan bertiup. Aku kembali mengingat cerita kakek dan dari semua hal yang diceritakan kakek ada satu hal yang masih tergiang. Satu bait yang ku tulis di hati ini:

Aku ingin seperti siput gonggong

Yang akan terus berusha berdiri sendiri

Saat ia terjatuh dan terbalik

Akan terus melangkah tertatih-tatih

Melawan derasnya ombak di pasir putih

Dan takkan pernah menyerah

Kata-kata itu yang selalu mengiang dipikiranku malam ini. Aku menemukan makna dan konotasi dari seekor siput kecil. Siput yang terkenal lambat, tak berdaya, dan juga lemah. Aku merasa malu pada seekor siput. Mungkin aku tak ada apa-apa jika dibandingkan dengan seekor siput. Aku adalah insan yang kalah sebelum berperang. Berbeda dengan siput yang akan terus melangkah dan berdiri saat ombak membalikkan cangkangnya. Sedangkan aku malah bersembunyi didalam cangkang itu dan takkan akan pernah keluar. Aku seharusnya malu, aku punya tangan dan kaki yang bisa kugerakan kemana pun dan melakukan apapun untuk diriku. Tapi aku hanya diam, berbeda dengan siput yang terus melangkah, melawan arus membawa beban berat meniti pasir putih itu.

Aku tersadar, saat lamunanku terpecah. Ratna adik Rahmi menyapa dan mendekat duduk disampingku. Ku lihat mata gusar dan kelam itu masih ada. Muka pucat, ekspersi muram mengitari Ratna. Namun, sedikit ku baca ia tetap berusaha tenang. Malam ini sepi, tengah larut malam suasana rumah cukup ramai. Penuh sanak saudara yang berdo’a melepas asa dan lara.

“Kak Mita, tadi berjalan-jalan di tepi pantai?” Tanya Ratna memecah sepi.

“Ya, dan kurasa tak pernah melihat pantai seindah di desa ini”, tuturku pelan.

“Benar, disini begitu indah”, jawab Ratna.

“Mungkin itu alasan kenapa Ratmi tetap memilih kembali kesini, menetap dan bekerja” jawabku sambil menatap foto Ratmi yang ada di rak, di sebelah tempat aku berdiri.

“Ya, itu salah satunya”, jawab Ratna.

“Tapi, bukan cuma karena itu, tapi untuk mimpinya membangun desa dan mensejahterakan masyarakat disini. Ratmi ingin menjadi seorang guru yang baik, mengajar dan mengabdi untuk anak-anak di desa Rombodong”, ucapku perlahan sambil menutup mata, meneteskan air mata bening di pipi ini.

Ku akhiri pembincanganku dengan Ratna, aku berbaring di tempat tidur mencoba melepas lelah. Aku masih sedikit mengingat Ratmi, sahabat yang selalu ada disampingku saat aku lelah dan resah. Ku tahu ia tak kenal asa, membantuku mengumpulkan dan merajut masa depanku, karena sejujurnya banyak hal yang ku pelajari darinya.

Disela-sela pembicaraanku dengan Ratna, beberapa menit lalu. Aku bertanya tentang kakek tua pencari siput gonggong. Sedikit menyesal aku bertanya akan hal itu, aku baru kakek tua itu tinggal dipesisir pantai seorang diri. Kakek tua sebatang kara, ia hanya ditemani senyum kecil siput-siput gonggong itu. Kakek tua bergelut dengan takdir saat ia harus kehilangan istri dan seorang putrinya karena wabah penyakit malaria melanda desa ini. Ia sudah lama hidup sendiri, namun ia dikenal oleh penduduk sekitar sebagai kakek tua pesisir pantai yang ramah dan bersahaja.

Jujur tak seharusnya aku kehilangan asa, saat aku kehilangan dia. Saat Sang Pangeran Hati pergi dan kini aku larut pada kesendirian yang melankolis dan membutakan. Aku  merasa seakan langit ini runtuh dan waktu berhenti. Mungkin ini tak ada awal dan akhir, yang aku tahu semua itu sejak 3 bulan lalu. Mengubur mimpi dan asaku, aku hanya tenggelam dan larut.

Aku pun kembali jatuh dan menepi saat aku ditemani awan gelap kehidupan. Aku merasa tak ingin dan tak mampu bangkit. Mengatur kembali hidupku dari awal, dan meneruskan perjuanganku yang separuh jalan. Aku memutuskan sia-sia semuanya yang telah ku awali dulu. Mungkin saat ini aku menjadi pengecut di balik topeng ketakutan. Naif akan sesuatu hal yang seharusnya harus ku hadapi. Aku hidup dengan datar, tanpa tujuan dan dengan gaya alur penarikan stabil tak beranjak naik. Aku sia-siakan pilihan masa depan menjadi seorang ahli dan tetap bekerja sebagai karyawan, tanpa tahu dan apa pun dan arah mana yang akan dituju.

Pahit memang ku rasakan, saat aku harus ke tempat ini. Mengucapkan kata-kata perpisahan yang tak pernah sempat aku ucapkan untuk Ratmi sahabatku. Aku hanya melihat rumahnya yang ramai, suasana yang kelam dengan air mata. Melihat tetes airmata yang seharusnya tak kami hadirkan pada peristirahatan terakhir Ratmi. Aku tak ingin marah, tapi aku sedikit terluka saat ku tahu kecelakaan mobil yang menimpa Ratmi sehari yang lalu. Pahit dan getir ini seharusnya aku mengubah semuanya, semestinya aku menjadi siput gonggong dan kakek tua yang tak kenal lelah, ucapku dalam hati sambil menatap cangkang siput gonggong yang ada di genggaman tanganku.

About FRANSORI

Unik person
This entry was posted in Bahasa dan Sastra. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s