UNSUR UNSUR SEJARAH DALAM PUISI

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Puisi merupakan karya sastra, suatu penciptaan manusia akan apa yang ia pikirkan maupun rasakan. Banyak cara yang dilakukan untuk mengapresiasi puisi. Salah satunya hanya dengan membacakan. Tapi, pentingnya pemahaman terhadap makna dan maksud puisi tersebut sangat diperlukan agar kita mampu mengapresiasikan puisi tersebut. Contoh lain dalam mengapresiasi puisi yaitu dengan membacakan oleh karena itu di butuhkan kreativitas dan ide yang baik untuk menciptakan sebuah puisi yang baik pula.
Mengapresiasi puisi merupakan bentuk dari perhatian dan ketertarikan dalam dunia sastra. Oleh karena itu dalam mengapresiasi puisi dibutuhkan pemahaman baik pula mengenai puisi. Salah satunya dengan memahami unsur-unsur kesejarahan dalam puisi. Hal ini dilakukan agar dapat membantu agar proses mengapresiasi puisi dapat terlaksana dengan baik. Banyak orang yang terkadang sulit atau malas untuk memahami atau hanya sekedar mengapresiasi karya sastra, misalnya juga dalam puisi. Salah satu faktor karena kesulitan untuk memahami makna dari karya sastra/ puisi tersebut. Oleh karena itu pentingnya memahami proses dan unsur-unsur sejarah dalam puisi itu sendiri dapat memotivasi atau bahkan mempermudah dalam mengapresiasi puisi.
Didalam makalah dibahas mengenai unsur-unsur kesejarahan dalam puisi. Beberapa contoh puisi yang dapat membantu proses pemahaman agar nantinya dapat membantu dalam mengapresiasi puisi.

II. UNSUR-UNSUR KESEJARAHAN DALAM PUISI

2.1. Pendekatan Historis dalam Puisi

Sebelum mengapresiasi puisi, sebaiknya mengetahui latar belakang dalam puisi tersebut agar dalam proses pengapresiasian puisi dalam berjalan dengan baik. Tentunya pula agar tujuan dan maksud dalam mengapresian puisi dalam tercapai. Hal ini juga sesuai dengan pandangan Suharianto (1981:16) ’Dalam mengapresiasi puisi haruslah terlebih dahulu menguasai seluk beluk mengenai puisi tersebut. Memperbanyak pengetahuan tentang puisi merupakan salah satu cara untuk menguasai puisi. Selain itu membacanya berulang-ulang juga dapat membantu agar mempermudah dalam proses pemahaman. Cara lain menurut Pradopo (2005:3) yaitu ”Puisi juga dapat dikaji dari sudut-sudut kesejarahannya, mengingat bahwa sepanjang sejarahnya, dari waktu ke waktu puisi di tulis dan selalu di baca orang”. Puisi berbeda dan berubah sesuai zaman dan perkembangannya, sesuai dengan pencipta dan pembaca atau penikmat sastra. Oleh karena itu pula pentingnya pendekatan historis dalam pengapresiasian puisi. Dalam memahami proses historisnya banyak hal yang dapat kita ketahui, baik dari segi kehidupan penulis, latar dan zaman pada masa penulisnya itu sendiri. Dalam kegiatan mengapresiasi puisi unsur-unsur kesejarahan dalam puisi, pendekatan yang dapat kita lakukan yaitu dengan pendekatan historis. Menurut Suhendar dan Pien Supinah (1993:42):
Pendekatan historis adalah suatu pendekatan yang menekankan pada pemahaman tentang biografi pengarang, latar belakang peristiwa kesejarahan yang melatarbelakangi masa-masa terwujudnya karya sastra yang dibaca, serta tentang bagaimana perkembangna kehidupan penciptaan maupun kehidupan sastra itu sendiri.
Pemahaman yang baik terhadap puisi akan diperoleh dengan melakukan pendekatan historis. Dengan pemahaman tersebut pula dapat membantu dalam proses pengapresiasian puisi.

2.2. Hubungan antara Peristiwa Kesejarahan dengan Gagasan dalam Suatu Puisi

Pendekatan historis dalam mengapresiasi sastra bukan hanya sekedar pendekatan yang dilakukan dengan membahas aspek kesejarahan saja karena tujuan akhir pendekatan historis adalah untuk memahami atau mengapresiasi cipta sastra itu sendiri. Dalam mengapreasiasi sastra dengan pendekatan historis terdapat ciri-ciri antara lain:

1. Berusaha memahami biografi pengarang
2. Berusaha memahami peristiwa kesejarahan yang melatarbelakangi terwujudnya cipta sastra.
3. Berusaha memahami perkembangan cipta satra pada suatu zaman.
Gagasan yang dibuat oleh pengarang saling berkaitan atau berhubungan dengan peristiwa kesejarahan yang ada dalam puisi. Dalam gagasan terrebut dapat terkandung pokok permasalahan, pemikiran atau kehidupan yang terjadi pada masa penulis membuat puisi. Tergambar pula terkadang latar berlakang ataupun suatu peristiwa atau pula kejadian. Misalnya dalam sebuah bait puisi yang berjudul ”Karangan Bunga” Taufik Ismail, kita mampu melihat peristiwa dan kejadian dengan simbol kata-kata yang dituliskan.

Tiga anak kecil
Dengan langkah malu-malu
Datang ke Salemba
Sore itu
Ini dari kami bertiga
Pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang ditembak mati
Siang tadi

(”Karangan Bunga” Taufik Ismail)

Tanpa memahami latra belakang peristiwa kesejarahan yang terjadi pada saar puisi itu dibuat, maka akan sulit bagi pembaca untuk menentukan gagasan yang dikandung dalam puisi tersebut. Oleh karena itu agar dapat membantu kita mengetahui gagasan yang terkandung didalamnya kita memperhatikan dengan pendekatan historis. Mengapreasiasi makna yang terdapat dalam puisi ”Karangan Bunga”, berhubungan dengan pengetahuan pembaca dalam memahami tuntunan masa Orde Baru yang diperjuangkan dengan tekad dan keberanian, yang dikenal dengan tiga tuntunan rakyat atau Tritura. Pelopor masa Orde Baru saat itu antara lain Mahasiswa Universitas Indonesia yang berkampus di Salemba (Aminuddin, 2004:175)
Tiga anak kecil merupakan lambang tuntunan rakyat yang mekar dan baru lahir, Salemba merupkan markas para Mahasiswa UI yang juga tergabung dalam KAMI. Mereka datang pada waktu sore hari, karena sore harid apat juga menjadi lambang dari berakhirnya sesuatu, yaitu Orde Lama sadangka yang disebut kakak yang tertembak mati merupakan mahasiswa UI yang bernama Arief Rahman Hakim terbunuh pada waktu demontrasi terjadi.
Perlu diketahui pula bahwa dalam kegiatan mengapresiasi dengan menggunakan pendekatan historis , penelaahan hanya terbatas pada masalah yang berhubungan dengan masalah kenegaraan, kebangsaan, sosial politik dan masalah kehidupan masyarakat. Dalam pendekatan historis untuk memahami unsur-unsur kesejarahan yang terkandung dalam puisi terdapat beberapa tahapan yaitu:

1. Memahami tahun, kalau mungkin tanggal dan bulan puisi itu diciptakan atau diterbitkan.
2. Memahami peristiwa historis yang terjadi pada masa itu.
3. Memahami peranan penyairnya.
4. Membaca puisi secara keseluruhan.
5. Menghubungkan peristiwa kesejarahan lahirnya puisi itu dengan gagasan yang terjadi didalamnya.

2.3. Hubungan Kehidupan Pengarang dengan Gagasan dalam Puisi

Salah satu bagian penerapan pendekatan historis dalam mengapresiasi unsur-unsur kesejarahan dalam puisi adalah pembicaraan mengenai biografi pengarang. Pembahasan tantang hubungan antara kehidupan pengarang dengan gagasan yang terdapat dalam suatu puisi yang diciptakannya sangatlah berhubungan erat denga kehidupan pengarang serta puisi yang diciptakannya. Misalnya puisi karya Amir Hamzah, beliau seorang yang berasal dari Langkat, Kepulaun Riau yang begitu erat dengan kehidupan dan budaya melayu. Ia masukan unsur-unsur melayu dalam puisi, baik dari pemilihan kata dan bahasa. Tentang bagaiman kedekatan Amir Hamzah denga Tuhan yang penciptaannya dalam puisi yang bernafaskan keagamaan.
Namun meskipun begitu gagasan kehidupan terkadang tidak selalu ide-ide yang ada dalam puisi didalam karyanya selalu berkaitan satu sama lain. Hal ini karena, seorang pengarang pun harus mampu menggali ide-ide lain yang juga tidak kalah menarik dari ide dan gagasan dalam kehidupannya. Hal ini sependapat menurut (Aminuddin, 2004:178) ”Puisi menggambarkan sesuatu sangat luas dan bukan hanya cermin dari kehidupan pengarangnya sendiri. Bahwa didalam puisi banyak terkandung ide maupun gagasan lain, yang memperkaya jenis dan tema dari bermacam-macam puisi.
2.4. Hubungan Penciptaan Puisi dengan Pandangan Tentang Kesastraan pada Suatu Zaman
Penciptaan puisi sering kali dipengaruhi oleh pandangan tentang kesastraan pda suatu zaman. Hal ini dibukutikan dengan adanya perbedaan antra puisi yang diciptakan oleh Angkatan Pujangga Baru dengan puisi para sastrawan Angkatan ’45. Menurut Aminuddin (2004:180) Puisi-puisi angkatan Pujangga Baru umumnya dikenal impersionistis karena puisi yang diciptakan merupakan cermin atau potret dari objek penciptaan. Hal ini dapat dilihat dari puisi Moehammad Zein atau Mozasa yang berjudul ”Dikaki Gunung”, yang bait pertamanya berbunyi:

Hawa meresap ke urat sayap
Membawa wangi bunga-bungaan
Diiringi kabut tipis melayap
Enggan ke gunung, merayu hutan

Selain itu pujangga baru lebih dikenal dengan sifat romantik. Mereka lebih mengutamakan kedalaman rasa karena bagi mereka puisi harus diciptkan dari rasa gemuruh yang paling dalam. Hal ini dibuktikan pada salah satu bait puisi Sanusi Pane yang berjudul ”Sajak”:

Di mana harga karangan sajak,
Bukanlah dalam maksud isinya,
Dalam bentuk, kata nan rancak
Dicari timbang dengan pilihnya.
Tanya pertama ke luar di hati,
Setelah sajak dibaca tamat,
Sehingga mana tersebut sakti,
Mengingat diri di dalam hikmat.
Rasa bujangga waktu menyusun,
Kata yang datang berduyun-duyun
Dari dalam, bukan nan dicari
Harus kembali dalam pembaca,
Sebagai bayang di muka kaca,
Harus bergoncang hati nurani

Sikap romatik tersebut juga tercermin dalam dalam mewujudkan gagasan penyair sehubungan denga masalah hidup dan kehidupan. Hal ini dibuktikan pada salah satu puisi Amir Hamzah dalam ”Buah Rindu” yang berbunyi:

Datanglah engkau wahai maut
Lepaskan aku dan nestapa
Engkau lagi tempatku berpaut
Di waktu ini gelap gulita.
Kicau murai tiada merdu
Pada beta bujang Melayu
Himbau pungguk tiada merindu
Dalam telingaku seperti dahulu.
Tuan aduhai mega berarak
Yang melipud dewangga raya
Berhentilah tuan di atas teratak
Anak Langkat musyafir lata.
Sesa’at sekejap mata beta berpesan
Padamu tuan aduhai awan
Arah manatah tuan berjalan
Di negeri manatah tuan bertahan?
Sampaikan rinduku pada adinda
Bisikkan rayuanku pada juita
Liputi lututnya muda kencana
Serupa beta memeluk dia.
Ibu, konon jauh tanah Selindung
Tempat gadis duduk berjuntai
Bonda hajat hati memeluk gunung
apatah daya tangan ta’ sampai.
Elang, Rajawali burung angkasa
Turunlah tuan barang sementara
Beta bertanya sepatah kata
Adakah tuan melihat adinda?
Mega telahku sapa
Margasatwa telahku tanya
Maut telahku puja
Tetapi adinda manatah dia !

Pandangan tentang kesastraan bukan hanya sekedar pengaruh dalam perwujudan atau pemilihan gagasan yang dituangkan pengarang serta cara penyampaian gagasan, melainkan juga akan menentukan bentuk puisi itu sendiri.

Pengapresiasian daalam kaitannya dengan unsur-unsur kesejarahannya dapat kita perhatikan dengan pola sebagai berikut:

PEMBACA PROSES PEMAKNAAN

PUISI
PENYAIR
PENUTUP

Puisi harus berkomunikasi dengan pembacanya karena puisi harus dapat dipahami dan dinikmati pembaca. Dapat disimpulkan bahwa pemakanaan yang semata-mata berorientasi pada struktur internal puisi memang sering kali belum mencukupi. Pemahaman latar historis yang berkaitan erat dengan peristiwa sejarah pada suatu zaman, konvensi penciptaan atau aliran yang diminati serta biografi pengarang, menajdi semancam kunci pemahaman kandungan makna puisi yang diapreasiasi. Dengan demikian keselarasan antra unsur-unsur tersebut haruslah dipahami dengan tepat agar proses pengapreasiaan puisi dapat terlaksana dengan baik.

IV. DAFTAR PUSTAKA

Alissjahbana, Sutan Takdir.1997. Amir Hamzah Penyair Besar antara Dua Zaman. Jakarta. PT Dian Rakyat

Aminuddin, 2004. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algesindo

Pradopo, Rachmat Djoko. 2005. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gajah Mada University

Suharianto, S. 1981. Pengantar Apresiasi Puisi. Surakarta: Widya Duta.

Suhendar dan Pien Supinah. 1993. Pendekatan Teori Sejarah dan Apresiasi Sastra Indonesia. Bandung: Pionir Jaya.

About these ads

About FRANSORI

Unik person
This entry was posted in Bahasa dan Sastra. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s